Garam Meja, Laut atau Himalaya, Mana yang Paling Sehat?

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Garam Himalaya. Pixabay.com/Theresaharris10

    Garam Himalaya. Pixabay.com/Theresaharris10

    TEMPO.CO, Jakarta - Garam merupakan mineral kristal yang terbuat dari dua unsur, yaitu sodium dan klorin. Biasanya menjadi salah satu bahan penting dalam bahan masakan. Dengan menambahkan garam akan menambahkan cita rasa makanan semakin lezat dan menggugah selera. 

    Ada berbagai jenis garam yang tak hanya berbeda dari segi rasa dan tekstur, namun juga dalam kandungan mineral dan sodiumnya. Berikut ini jenis-jenis garam yang bisa Anda tambahkan ke dalam masakan. 

    Jenis-jenis garam

    1. Garam meja

    Garam meja merupakan garam yang biasa digunakan saat memasak. Garam ini memiliki tekstur yang sangat halus karena telah melewati banyak proses pengolahan. Garam meja juga hampir seluruhnya mengandung natrium klorida murni 97% atau lebih tinggi. 

    Selain itu, garam meja mengandung pula caking agents agar tidak mudah menggumpal. Garam meja juga diperkaya oleh yodium untuk mencegah masyarakat kekurangan yodium. Kondisi tersebut dapat menyebabkan hipertiroidisme, cacat intelektual, dan berbagai masalah kesehatan lainnya.

    2. Garam laut

    Garam laut dihasilkan dengan cara menguapkan air laut. Sama halnya dengan garam meja, garam laut juga mengandung banyak natrium klorida. Namun, bergantung pada sumber dan prosesnya, garam ini juga dapat mengandung berbagai mineral, seperti kalium, zat besi, dan zinc. 

    Semakin gelap warna garam laut, maka semakin tinggi kandungan kotoran dan unsur mineralnya. Sebab garam laut murni dibuat di laut sehingga bisa saja tercemar oleh sejumlah logam berat dan mikroplastik. Garam laut memiliki tekstur yang lebih kasar dan rasa yang lebih kuat dari garam meja. Kotoran dan mineral yang ada di dalamnya juga bisa memengaruhi rasa garam tersebut.

    3. Garam himalaya

    Garam himalaya mungkin masih terdengar asing di telinga Anda. Garam ini berasal dari tambang terbesar kedua di dunia, yaitu Khewra Salt Mine yang terletak di Pakistan. Garam himalaya berwarna merah muda karena mengandung sejumlah besi oksida. Tak hanya itu, garam ini juga mengandung sejumlah kecil kalsium, zat besi, kalium, dan magnesium. Dibandingkan garam meja, garam himalaya mengandung natrium yang lebih rendah.

    4. Garam kosher

    Garam kosher memiliki tekstur yang kasar dan tak beraturan, namun sangat efisien dalam mengekstraksi darah. Bukan hanya pada tekstur, perbedaannya dengan garam meja juga terletak pada ukuran di mana garam kosher memiliki ukuran yang besar sehingga lebih mudah diambil dengan jari-jari untuk ditaburkan di atas makanan. 

    Garam ini juga tidak mengandung agen anti-caking dan yodium sehingga mudah menggumpal. Akan tetapi, jika larut dalam makanan, garam kosher memiliki rasa yang tak jauh beda dengan garam meja.

    5. Garam celtic

    Garam celtic adalah jenis garam laut yang memiliki warna keabu-abuan. Garam ini juga mengandung sedikit air sehingga membuatnya cukup lembap. Garam celtic mengandung sejumlah mineral, namun kadar natriumnya lebih rendah daripada garam meja.

    Hingga saat ini, belum ada penelitian yang membandingkan efek kesehatan dari berbagai jenis garam. Kalaupun ada, maka akan kecil kemungkinannya untuk ditemukan perbedaan yang besar. Sebab kebanyakan garam pada dasarnya memiliki kandungan serupa yang terdiri dari natrium klorida dan sejumlah kecil mineral. 

    Sebab itu, Anda dapat menambahkan garam apa pun ke dalam masakan untuk memberi rasa. Namun, pastikan memilih garam beryodium dan tidak berlebihan terutama untuk penderita hipertensi. 

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bahaya dan Manfaat yang Kita Dapat dari Mengkonsumsi Kayu Manis

    Kayu Manis banyak memiliki khasiat yang baik untuk tubuh kita. Namun beberapa jenis penyakit dapat terpicu bila kelewat sering mengonsumsi kayu manis.