Batal Menikah seperti Cita Citata? Ini 7 Tips agar Tidak Terpuruk

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cita Citata dan kekasihnya di Istanbul, Turki. (Instagram - @cita_citata)

    Cita Citata dan kekasihnya di Istanbul, Turki. (Instagram - @cita_citata)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kisah cinta Cita Citata dan Roy Geurts harus kandas di tengah jalan. Padahal pasangan beda negara ini telah merencanakan pernikahan. 

    Roy Geurts melamar Cita Citata di Amsterdam, Belanda, pada Selasa, 7 Januari 2020. Cita Citata juga sudah dikenalkan dengan keluarga Roy yang menetap di Belanda. Untuk melancarkan proses pernikahan, Roy memutuskan jadi mualaf.

    Di tengah kondisi terluka batal menikah, Cita Citata mengatakan dukungan dari kerabat dan keluarga menjadi penyemangatnya. "Mereka menguatkan aku, ikhlas, sabar karena hidup harus berjalan," kata Cita Citata di Instagram pada Jumat, 3 Juli 2020.

    Pelantun lagu Sakitnya Tuh di Sini itu mengatakan bahwa persiapan rencana pernikahannya dengan Roy Geurts sudah rampung. Bahkan tanggal pernikahan sudah ada, meski ia tak mau menyebut. Cita Citata mengatakan tak ingin larut dalam kesedihan dan membahas lebih jauh masalah yang tengah dihadapinya tersebut.

    ADVERTISEMENT

    Seperti kondisi yang tengah dialami oleh Cita Citata, ketika seorang perempuan sudah bersiap jelang pernikahan lalu batal, maka bisa dipahami jika muncul rasa kecewa, sedih, malu, putus asa, marah, dan bahkan merasa terpuruk dalam kondisi depresi dan stres. Lalu, apa yang bisa dilakukan agar tidak berlarut-larut dan bisa bangkit kembali?

    Berikut tips untuk belajar menerima kondisi secara bertahap yang dibagikan Psikolog Anisa Cahya Ningrum kepada Tempo.co pada Selasa, 7 Juli 2020.

    1. Menangis

    Jika menangis membuat hati Anda menjadi sedikit lega, maka lakukanlah. Beri kesempatan kepada diri sendiri untuk mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat. Menangis adalah salah satu cara untuk meluapkan perasaan agar tidak merasa sesak di dada.

    “Menangis bukan tanda kelemahan, namun justru menunjukkan bahwa kita jujur pada diri sendiri,” ungkap Anisa.

    2. Jauhkan dari benda kenangan

    Jika kenangan tentang mantan sangatlah melekat dan mengganggu, maka segala benda atau hal-hal terkait dengannya, bisa segera disingkirkan atau dimusnahkan.

    3. Carilah tempat bersandar

    Jangan menganggap Anda bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. Pilihlah seseorang yang Anda percayai, mungkin itu sahabat, kakak, adik, orang tua, atau siapa pun yang bisa menjadi pendengar yang baik, dan memahami perasaan Anda. Tumpahkan segala keluh kesah kepadanya, agar Anda merasa lebih ringan dan lega.

    4. Berhenti stalking atau mencari tahu

    Jangan membiarkan diri Anda mencari tahu tentang mantan, baik aktivitas maupun pembaruan statusnya di media sosial. Jika terasa sangat mengganggu, bisa dilakukan pemblokiran sementara, nanti bisa diubah jika Anda sudah bisa mengendalikan emosi dan merasa lebih baik.

    5. Proses menerima kegagalan

    Kenyataan pahit ini memang harus diterima, namun Anda tidak perlu menuntut diri sendiri untuk melakukannya dengan segera. Jalani proses ini dengan mengikuti kata hati yang dirasakan.

    “Awalnya akan muncul perasaan menolak dan marah. Itu normal, karena ini bukanlah hal yang kita inginkan. Nantinya akan ada proses dimana kita bisa mempertimbangkan banyak hal, yang membuat kita merasa bahwa kenyataan ini sudah terjadi dan harus diterima,” ungkap Anisa.

    6. Butuh Waktu

    Anda hanya butuh waktu. Yakinilah, bahwa semua akan berlalu, dan waktu akan menyembuhkan luka yang saat ini terasa menyiksa. Tugas Anda adalah mengisi waktu yang perlu dilewati dengan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat secara bertahap.

    7. Konsultasi pada ahli 

    Jika dirasa perlu, Anda bisa berkonsultasi ke psikolog, untuk mendapatkan pendampingan secara profesional.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.