Tanpa Disadari, 5 Hal ini Tanda Ibu Mom Shaming Diri Sendiri

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita sedih dan kecewa. Freepik.com

    Ilustrasi wanita sedih dan kecewa. Freepik.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Tak diragukan lagi, menjadi seorang ibu adalah salah satu tugas yang paling menakutkan dan paling melelahkan. Sejak dari bayi, merawatnya dengan memenuhi banyak sekali kebutuhannya agar ia aman dan tenang, menjadi seorang ibu layaknya seperti sebuah keajaiban di dunia nyata. Namun, dengan banyaknya keindahan dan kehangatan yang didapat, ada pula aspek lain yang jarang dibahas saat Anda menjadi ibu.

    Saat Anda merasa seperti langsung terkoneksi dengan orang asing yang sedang berjuang dengan bayinya, ada sejumlah penilaian yang bersifat menghakimi yang datang dari luar atau yang juga disebut dengan ‘mom shaming’, yaitu komentar-komentar dari para ibu itu sendiri. Mereka adalah orang-orang yang selalu memilih dan memutuskan mana saja keputusan untuk mengasuh anak di antara sesama ibu-ibu.

    Seperti semacam ada kebutuhan untuk selalu mengkritik, mempertanyakan dan bahkan mengolok-olok pilihan ibu. Entah ia memutuskan untuk tetap menjadi ibu yang bekerja, keputusan untuk memilih susu formula, menyusui, atau bahkan untuk memperpanjang masa menyusui. Hal ini penting untuk dicatat agar kita tahu dan paham bahwa penghakiman kejam pada ketrampilan mengasuh anak kita dapat merusak kepercayaan diri kita sendiri.

    Tidak banyak orang membahas monolog peperangan batin yang beracun yang dialami para ibu dalam kegiatannya sehari-hari. Hampir semua ibu seringkali merupakan kritikus diri sendiri yang paling keji. Jika Anda masih belum yakin bagaimana monolog batin Anda adalah kegiatan mempermalukan kemampuan diri sendiri sebagai seorang ibu, perhatikan tanda-tanda berikut ini seperti dilansir dari laman Times of India.

    ADVERTISEMENT

    1. Anda merasa Anda gagal jika anak Anda terluka

    Anak adalah makhluk kecil yang suka ingin tahu, yang selalu belajar sedikit demi sedikit mengenai dunia di sekitarnya setiap hari. Mereka menyeret, berlari, menyentuh, memanjat, melompat, dan melakukan apa saja dengan kemampuan mereka untuk menyentuh dan bereksperimen pada objek di sekitar mereka. Kecuali Anda mengikat anak Anda di kasur dan tidak melepaskan mereka, mereka akan terjun ke kasur, membuat lututnya lecet, jatuh dari kursi dan bahkan mencelupkan tangannya ke dalam cangkir teh panas. Jadi, jika anak Anda melukai dirinya sendiri, belajarlah untuk merasakan sakit yang dialaminya tanpa merasa bersalah pada diri sendiri. Rawatlah si kecil tanpa memaki diri sendiri. Ingatlah, sehati-hati apapun Anda, kecelakaan akan selalu terjadi.

    2. Anda menyalahkan diri sendiri saat tidak menjadi ‘super mom’

    Sejujurnya, tidak ada satupun yang tahu apa artinya istilah ‘super mom’ atau ‘ibu super’. Kalaupun ada, istilah itu merupakan gagasan toxic yang menekankan bahwa para ibu sudah diberkati dengan kekuatan super dan jika Anda belum menemukannya, maka itu adalah masalah Anda. Ingat, menjadi ibu yang baik bukan berarti bahwa Anda harus melakukan hal atau mengingat segala hal mengenai anak Anda dengan sempurna. Merawat anak Anda dengan baik sudah merupakan hal yang patut dipuji. Coba untuk jangan menyalahkan diri sendiri saat melakukan kesalahan kecil yang luput dari pikiran Anda.

    4. Menghakimi diri sendiri karena berat badan yang naik pasca melahirkan

    Salah satu hal yang paling kejam yang Anda lakukan ke diri sendiri adalah dengan menghakimi dan mengolok-olok bobot tubuh Anda pasca melahirkan. Berkat media sosial, kita selalu dihadapkan pada betapa pentingnya bagi ibu untuk cepat langsing setelah melahirkan dan sesegera mungkin mengembalikan bentuk tubuh saat masih gadis.

    Jika Anda selalu menyalahkan diri sendiri karena baju-baju lama Anda yang sudah tidak muat, Anda harus ingat bahwa butuh waktu sembilan bulan lamanya agar anak Anda lahir dengan berat badan yang sehat. Anda tidak dapat mengolok tubuh yang sama yang sudah melahirkan anak hanya karena tubuh Anda tidak bisa memenuhi standar masyarakat. Alih-alih memaksa tubuh Anda agar muat memakai pakaian lama, cobalah untuk belajar menghargai dan mencintai tubuh Anda. Tujuan Anda adalah untuk selalu tetap sehat, terlepas dari berapapun berat badan Anda. 

    5. Tidak mementingkan diri sendiri

    Sayangnya, budaya telah mempropagandakan ide bahwa menjadi seorang ibu berarti harus berkorban bagi setiap orang dalam keluarga secara terus-menerus hingga tanpa sadar hal itu telah tertanam di benak kita. Menjadi orang tua memang berarti bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan anak Anda, namun hal tersebut bukan berarti Anda menjadi tidak mementingkan diri sendiri dan selalu mengabaikan kebutuhan dan kesehatan Anda.

    Baca juga: Mom Shaming Jika Dibiarkan Berisiko pada Kesehatan Mental Ibu

    6. Memaki diri sendiri karena tidak banyak terlibat di kegiatan sekolah anak Anda

    Memang di luar sana ada ibu-ibu yang dengan sukarela ikut berjualan kue dan selalu hadir untuk ikut menyiapkan kelas untuk acara menari tahunan dan kegiatan sekolah lainnya. Jika Anda selalu menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu untuk ikut meluangkan waktu pada kegiatan sekolah anak, ingatlah bahwa melakukan sesuatu selalu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Fakta bahwa Anda begadang dengan anak Anda untuk ikut gladi bersih sekali lagi, mencoba menolong mereka saat pelajaran menggambar, dan melengkapi kebutuhan mereka untuk lomba busana, semua dilakukan saat membagi waktu berada di rumah, di kantor, dan bersama anak adalah hal yang terpuji. Akui dan pujilah diri sendiri yang telah berusaha!

    NOAH CHRISELLA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?