Anak Batuk karena Alergi atau Infeksi? Cek Cara Membedakannya

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak sakit flu/pilek. Shutterstock.com

    Ilustrasi anak sakit flu/pilek. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak yang mengalami batuk sering membuat khawatir, terutama di masa pandemi. Ada kemungkinan batuk tersebut disebabkan infeksi atau hanya sekadar alergi. Bagaimana membedakannya?

    Konsultan alergi dan imunologi anak, Prof. Budi Setiabudiawan, mengatakan untuk membedakan keduanya, orang tua perlu memperhatikan ada atau tidaknya demam.

    Selain itu, amati bagaimana kejadiannya, misal batuk dan pileknya, apakah terjadi sepanjang hari atau lebih ke malam hari dan terakhir, perhatikan apakah dahak atau ingus berwarna dan kental.

    Jika ada demam, lalu batuk pileknya muncul pagi dan malam hari serta dahak atau ingusnya kental dan berwarna, maka dia kemungkinan mengalami infeksi.

    ADVERTISEMENT

    "Kalau alergi biasanya tidak disertai demam. Kejadian batuk pileknya terutama pada malam hari dan biasanya dahak atau ingusnya bening, tidak berwarna," tutur Budi saat virtual gathering Bicara Gizi "Allergy Prevention" dari Danone SN, Kamis, 25 Juni 2020.

    Untuk memastikan anak alergi, Budi menekankan pentingnya deteksi dini alergi terutama. Tindakan ini penting untuk mendapatkan penanganan sehingga tidak menganggu tumbuh kembang anak.

    Alergi merupakan respons sistem imun yang tidak normal untuk mengenali bahan-bahan yang sebenarnya tidak berbahaya bagi orang lain.

    "Deteksi dini dan nutrisi tepat mencegah alergi anak. Kalau tidak dicegah bisa menjadi komorbid pada anak yang menempatkannya rentan terkena COVID-19," tutur Budi.

    Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyebut penduduk dunia mengalami alergi 30-40 persen. Lalu, hingga 550 juga orang diketahui mengalami alergi makanan, salah satunya alergi susu sapi. Di Indonesia sekitar 7,5 persen anak mengalami alergi susu sapi.

    Lebih lanjut, alergi biasanya dialami pada anak dengan bakat alergi yakni diturunkan dari salah satu atau kedua orang tuanya. Jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi maka berisiko membuat anak mereka 40-60 persen terkena alergi.

    Risiko akan meningkat menjadi 60-80 persen jika orang tua memiliki manifestasi yang sama.

    Bila hanya salah satu orang tua yang memiliki riwayat alergi, maka risiko anak terkena alergi sekitar 20-40 persen. Risiko anak terkena alergi masih tetap ada yakni 5-15 persen bahkan jika orang tua tak memiliki riwayat alergi.

    “Kalau terlambat diagnosis, akan muncul dampak-dampak disebakan penyakit alergi, dari sisi kesehatan misalnya meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti obesitas, hipertensi dan sakit jantung," kata Budi.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.