Tips Orang Tua Mempersiapkan Kesehatan Anak Menjelang New Normal

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak laki-laki bercerita pada ibunya. cdn.com

    Ilustrasi anak laki-laki bercerita pada ibunya. cdn.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Protokol khusus untuk menjalani kehidupan sehari-hari pasca pencabutan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) nanti dipastikan berdampak kepada psikologi masyarakat. Protokol dibutuhkan karena pandemi Covid-19 belum berlalu sehingga melahirkan istilah new normal.

    Sebab itu dibutuhkan persiapan termasuk juga kesehatan fisik agar Imunitas tetap terjaga dan juga kesehatan mental. Dokter Spesialis Anak, Dimple Gobind Nagrani mengatakan dari segi medis harus menyadari pandemi sedang berlangsung yang tidak tahu kapan akan berakhir. Dia juga mengimbau untuk mempersiapkan fisik dan mental anak

    "Banyak hal akan berubah dulunya bisa main dengan teman-teman dengan jarak dekat, bisa pegangan tangan, main santai. Saat ini mereka harus berhati-hati. Terpenting kita jangan membuat si kecil cemas, kalau mau berbagi fakta jangan menakuti mereka," ucap Dokter Dimple dalam Instagram Live Mother & Baby "Mempersiapkan New Normal untuk Anak" Selasa 2 Juni 2020.

    Sebab kenyataannya masih banyak yang takut misal pegangan tangan atau panik saat masker terlepas sebentar. Sebaiknya orang tua bisa mengenalkan virus dan konsep pandemi ini tidak dengan konsep yang menyeramkan tapi berusaha agar lebih hati-hati.

    "Agar anak tidak menjadi parno, orang tua harus hati-hati dengan pilihan kata. Tidak usah menambah cemas mereka, tapi sebaliknya hanya mau menenangkan mereka bahwa ada virus dengan penanganan sesuai dengan instruksi kesehatan," ucapnya.

    Menurut Dokter Dimple, anak usia 3 tahun sudah bisa diberikan pengertian, karena banyak gambar dan kartun corona yang disertai instruksi harus mencuci tangan, memakai masker, social distancing, tidak boleh sekolah dulu, serta interaksi melalui online. 

    Selain itu, akan ada kebiasaan baru untuk anak-anak dalam hal pendidikan yakni homeschooling. "Sebab masa seperti saat ini kira-kira sampai akhir tahun atau 6 bulan lagi. Jadi kita juga harus memperkenalkan konsep homeschooling, meski gurunya jauh dari sana kita tetap belajar jangan santai sehingga tidak mendapat manfaat homeschooling," saran Dokter Dimple.

    Dari segi preventif dan perlindungan diri, orang tua juga perlu mempersiapkan perlengkapan yang harus dibawa kalau harus keluar rumah. Meski pembatasan sudah tidak ada namun virus corona belum hilang jadi masyarakat harus tetap berhati-hati khusus untuk anak-anak.

    "Keluar rumah kalau sedang butuh saja jangan jalan-jalan ke mal atau yang tidak penting hanya karena alasan bosan di rumah. Untuk saat ini masih disarankan si kecil tetap berada di rumah," tambahnya. "Kalau memang ada kebutuhan keluar diharuskan bawa masker, minimal bawa 2 masker untuk jaga-jaga. Masker satu dipakai dan lainnya bisa disimpan agar anak bisa mengganti kapan saja jika kotor. Perlu ditekankan kenapa harus diedukasi kalau kotor dan basah harus diganti," ucap Dimple.

    Sebagai orang tua juga harus menyadari, semua perubahan ini akan membawa perubahan psikologis bagi anak yang akan dia bawa seumur hidup. "Saya selalu ingatkan orang tua jangan sampai kita berbagi kecemasan kita tapi sharing informasi yang bisa membantu dan buat saja rutinitas baru. Misal baru pulang dari luar sendal dilepas, langsung cuci tangan, dan tidak langsung menyentuh anggota keluarga," pungkasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setelah Wabah Virus Corona, Pemerintah Kini Waspadai Flu Babi

    Di tengah wabah virus corona, pemerintah Indonesia kini mewaspadai temuan strain baru flu babi. Flu itu pertama kali disinggung pada 29 Juni 2020.