Belajar di Rumah, Kondisi Psikologis Anak Dipengaruhi 3 Hal Ini

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi keluarga. Shutterstock.com

    Ilustrasi keluarga. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah belum dapat memastikan waktu kegiatan belajar mengajar di sekolah dibuka kembali saat pandemi Covid-19. Atas dasar pertimbangan kesehatan, sekolah masih akan digelar secara daring atau online, artinya siswa belajar di rumah setidaknya hingga Agustus-September 2020. Berarti sampai saat ini sudah hampir 3 bulan anak-anak belajar di rumah.

    Psikolog Nuzulia Rahma Tristinarum mengatakan ada beberapa hal yang mempengaruhi kondisi psikologis anak selama di rumah saja. Berikut ini ulasannya. 

    1. Cara orang tua berinteraksi dengan anak

    Jika pola interaksi, pola komunikasi atau pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anak sudah baik, benar dan menyenangkan tentu kondisi psikologis anak juga akan tetap baik. "Bahkan di rumah saja bisa membuat hubungan antar orang tua anak dapat semakin dekat dan membahagiakan," ucap Nuzulia saat dihubungi Tempo.co, Selasa 2 Juni 2020.

    2. Interaksi sesama anggota keluarga, misalnya ayah, bunda, kakak dan adik

    Jika di rumah saja membuat ayah dan bunda sering bersitegang atau bahkan bertengkar, tentu juga akan membuat suasana rumah menjadi tidak nyaman dan mempengaruhi kondisi psikologis anak.

    "Perlu ditumbuhkan juga interaksi yang baik antara sesama anak. Jangan sampai di rumah saja justru meningkatkan frekuensi bertengkar antar kakak adik tanpa penyelesaian yang baik," ucap Psikolog di Pro Help Center ini.

    Kondisi di rumah saja justru sebenarnya baik sebagai sarana belajar anggota keluarga dalam komunikasi dan menyelesaikan konflik. Apalagi jika selama ini, perilaku ayah atau bunda atau anak adalah menghindari konflik. Setiap ada konflik di rumah, mencari penghiburan dari teman, pekerjaan, dan suasana di luar rumah. Namun saat ini kan tidak bisa seperti biasanya.

    "Justru sekarang adalah saat yang baik bagi keluarga belajar dan menumbuhkan kemampuan dalam komunikasi dan menyelesaikan konflik. Dengan komunikasi dan penyelesaian konflik yang baik tentu akan menumbuhkan rasa nyaman diantara anggota keluarga, terutama untuk anak," lanjutnya.

    3. Kondisi rumah dalam hal penataan dan kebersihan

    Perlu diketahui jika kondisi rumah juga berpengaruh terhadap kondisi psikologis anggotanya, termasuk anak. Rumah yang bersih tentu akan menimbulkan rasa nyaman. Rumah dengan penataan barang yang rapi juga akan menimbulkan rasa nyaman.

    "Tidak masalah apakah rumahnya besar atau kecil, apakah barang barang di dalamnya bagus atau sudah usang. Yang penting adalah penataannya. Penataan dalam hal tata letak maupun jumlah dan fungsi barang. Sering kan rumah itu penuh dengan barang yang tidak digunakan. Apalagi jika berantakan penataannya akan mempengaruhi kondisi psikologis," ucap Trainer parenting Yayasan Kita dan Buah Hati ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setelah Wabah Virus Corona, Pemerintah Kini Waspadai Flu Babi

    Di tengah wabah virus corona, pemerintah Indonesia kini mewaspadai temuan strain baru flu babi. Flu itu pertama kali disinggung pada 29 Juni 2020.