Tiga Tipe Masyarakat Sambut New Normal, Ada yang Ngebet ke Mal

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mengisi data saat akan memasuki Malang Town Square, Jawa Timur, Senin, 1 Juni 2020. Dalam masa transisi new normal, jumlah pengunjung mal dibatasi hanya 40 persen dari biasanya.  Foto: Aris Novia Hidayat

    Pengunjung mengisi data saat akan memasuki Malang Town Square, Jawa Timur, Senin, 1 Juni 2020. Dalam masa transisi new normal, jumlah pengunjung mal dibatasi hanya 40 persen dari biasanya. Foto: Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Era new normal atau normal baru sudah di depan mata. Pusat perbelanjaan atau mal akan segera buka begitu masa pembatasan sosial berskala besar atau PSBB dilonggarkan. Rencana pembukaan mal pun mendatangkan beberapa reaksi dari masyarakat seperti menyambut dengan gembira atau tidak setuju.

    Menurut psikolog Intan Erlita, masyarakat Jakarta kini terbagi menjadi tiga tipe pada era normal baru yakni tipe yang menyambut antusias, memilih untuk tetap di rumah dan 50:50.

    "Ada tipe yang begitu tahu mau masuk new normal langsung happy, langsung pengin ke mal lah, nge-list mau makan apa, terus sudah excited lah baju-baju yang mau mereka pakai yang selama ini cuma di lemari doang. Ada yang kayak gitu," jelas Intan, Sabtu, 30 Mei 2020. 

    Tipe yang memilih tetap di rumah adalah orang-orang yang waspada. Mereka cenderung memiliki rasa takut dan menunggu sampai keadaan benar-benar normal bukan normal baru.

    "Ada juga yang masih wait and see dulu deh, masih mau lihat dulu karena takut, masih yang penuh hati-hatinya, jadi memilih untuk di rumah aja," kata Intan.

    Tipe terakhir adalah orang-orang yang datang ke pusat perbelanjaan atau mal hanya untuk mencari sesuatu yang benar-benar penting bukan sengaja datang untuk jalan-jalan.

    "Tapi ada juga yang di tengah-tengahnya, yang kalau ke luar rumah kalau urgen doang cuma mau kerja, tapi kalau ke anak enggak boleh keluar rumah dulu," ujar mantan presenter olahraga itu.

    Intan juga menegaskan bahwa normal baru bukanlah suatu keadaan yang benar-benar normal. Era normal baru adalah bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan virus COVID-19 sehingga tetap harus mengikuti protokol kesehatan dan keamanan,

    "Jadi jangan sampai kita salah nangkep dengan ini berarti udah normal. Enggak kayak gitu, garis merahnya adalah kita hidup berdampingan tapi ada COVID-19 nih, karena bisa dikatakan back to normal kalau si COVID-19 sudah enggak ada atau sudah ditemukan vaksinnya," jelas Intan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.