Tips Menikmati Hidangan Lebaran Tinggi GGL tanpa Rasa Bersalah

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi hidangan lebaran (ayam) (Pixabay.com)

    ilustrasi hidangan lebaran (ayam) (Pixabay.com)

    TEMPOC.CO, Jakarta - Hari Raya Idul Fitri tidak bisa lepas dari hidangan Lebaran yang mengandung tiga komponen utama, yakni gula, garam, dan lemak atau GGL. Hati-hati, asupan ketiga komponen tersebut secara berlebihan bisa menimbulkan risiko kesehatan. 

    Nutrition & Wellness Consultant Nutrifood M. Aldis Ruslialdi mengatakan pola asupan saat lebaran cenderung meningkat walau di masa pandemi Covid-19 karena banyak keluarga merayakan Lebaran di rumah saja. Praktik isi piringku di mana aturan makanan seimbang baik karbohidrat, sayur, dan protein menjadi susah dijalani.

    Sebenarnya, lanjut Aldis yang harus diperhatikan ialah mengontrol makan saat Lebaran. Sebab tidak bisa dimungkiri selain kita masak juga ada hantaran kerabat yang membuat stok makanan juga meningkat.

    Aldis pun membagikan trik untuk mengontrol makan saat Lebaran sehingga mengurangi rasa bersalah. 

    "Sebagai contoh, makan opor jangan pakai tambah banyak kuah, pilih bagian dada ayam dagingnya, begitu juga dengan rendang dimakan dagingnya saja," ucap Aldhis dalam Zoom Media Virtual bersama Nutrifood, Jumat 22 Mei 2020.

    Begitu pula dengan kue nastar. Menurut Aldis, makan nastar 4 butir dalam sehari kalorinya hampir 200. Kebanyakan orang biasanya makan nastar satu toples dipegang sendiri sehingga tidak ada kontrol.

    "Sebisa mungkin konsumsi yang dianjurkan cukup satu saja, dan itu pun juga ada stok buah untuk mengimbangi kalori kue kering," ucap Aldis.

    Menurut Aldis, kuantitas dan panduan gizi seimbang juga perlu diperhatikan termasuk asupan gula, garam, dan lemak. Asupan gula bisa naik dari kue nastar, kastengel, dodol, dan makanan manis lainnya. Sementara lemak dan garam pasti dari lauk.

    Belum lagi ketupat atau lontong lebaran yang kerap ada di meja makan. Menurut Aldis, lontong dan ketupat masuk dalam kategori karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi.

    "Sebagai alternatif Anda bisa mengganti dari biasanya beras putih jadi beras meran. jadi bukan tekstur yang jadi jaminan kalau tekstur keras lebih sehat. Sebab bahannya sama-sama dari karbohidrat. Kalau tidak bisa ganti beras merah, kembali ke porsi, merujuk isi piringku dianjurkan 2/3 porsi," saran Aldis.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.