Cerita Dakota Johnson Depresi dan Kecemasan Sejak Remaja

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktris Dakota Johnson menghadiri pemutaran perdana film terbarunya, <i>Bad Times at the El Royale</i>, di Hollywood, Sabtu, 22 September 2018. <i>Bad Times at the El Royale</i> merupakan film <i>thriller</i> yang disutradarai Drew Goddard. AP/Jordan Strauss

    Aktris Dakota Johnson menghadiri pemutaran perdana film terbarunya, Bad Times at the El Royale, di Hollywood, Sabtu, 22 September 2018. Bad Times at the El Royale merupakan film thriller yang disutradarai Drew Goddard. AP/Jordan Strauss

    TEMPO.CO, Jakarta - Aktris Dakota Johnson membuka diri tentang depresi yang dialaminya sejak dia masih remaja. Dalam sebuah wawancara terbaru dengan Marie Claire, aktris berusia 30 tahun itu mengungkapkan tentang bantuan profesional, dan bagaimana ia mengatasi kesehatan mentalnya.

    "Saya sudah berjuang dengan depresi sejak saya masih muda — sejak saya berusia 15 atau 14," katanya seperti dilansir dari laman Instyle. "Pada saat itulah, dengan bantuan para profesional, saya seperti, Oh, ini adalah hal yang bisa membuat saya jatuh cinta. Tetapi saya telah belajar untuk menemukan itu indah karena saya merasakan dunia. Saya kira saya memiliki banyak kerumitan, tetapi mereka tidak mencurahkan saya. Saya tidak menjadikannya masalah orang lain. "

    Dakota Johnson sebelumnya mengungkapkan bahwa dia kadang-kadang menderita kecemasan ketika datang ke audisi, kepada AnOther Magazine pada 2015, "Kadang-kadang saya panik sampai pada titik di mana saya tidak tahu apa yang saya pikirkan atau lakukan. Saya memiliki serangan kecemasan penuh. Saya tetap memilikinya sepanjang waktu, tetapi dengan audisi itu buruk,” ujar pacar vokalis Coldplay, Chris Martin.

    Masih dari wawancara dengan Marie Claire, Dakota Johnson juga membahas kecemasannya terhadap keadaan dunia saat ini. "Saya merasakan kecemasan paling gila tentang dunia dan planet kita,” ujarnya.

    "Saya terus-menerus memikirkan keadaan dunia saat ini. Itu membuat saya terjaga di malam hari, sepanjang malam, setiap malam. Otak saya pergi ke tempat-tempat gelap yang gila dengannya," katanya, seraya menambahkan bahwa "otaknya bergerak sejuta mil per menit. "

    "Saya harus melakukan banyak pekerjaan untuk membersihkan pikiran dan emosi, dan saya sedang menjalani banyak terapi," katanya.

    Melansir laman Sehatq, mengatasi masalah kesehatan mental, termasuk mengobati kecemasan memang tidak semudah mengonsumsi obat dan merasakan dampaknya pada tubuh. Terlebih, yang dikendalikan adalah hal yang menyangkut perilaku, bukan semata-mata urusan penyakit fisik.

    Walau begitu, tetap ada langkah-langkah untuk mengatasi cemas yang terus-menerus, seperti konsultasi dengan para pakarnya seperti psikiater, konselor, atau psikolog. Lalu melalui pengobatan terapi dan medis, temukan support group yang mewadahi untuk saling berbagi.

    Selain itu, olahraga juga bisa menjadi cara mengatasi rasa cemas berlebihan. Sebab, aktif berolahraga bisa membantu tubuh melepas hormon endorfin dan serotonin, yang bisa membuat Anda lebih bahagia secara emosional. Setidaknya, berolahragalah selama 30 menit sebanyak 3-5 hari. Jangan menganggap olahraga adalah beban, bersenang-senanglah dalam berolahraga di gym bersama teman baru.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.