Cerita Chelsea Islan Tertarik Mengajar di Pelosok Indonesia Timur

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Chelsea Islan saat ditemui dalam acara konferensi pers He for She di Jakarta, Rabu 26 Februari 2020. TEMPO/Eka Wahyu Pramita

    Chelsea Islan saat ditemui dalam acara konferensi pers He for She di Jakarta, Rabu 26 Februari 2020. TEMPO/Eka Wahyu Pramita

    TEMPO.CO, Jakarta - Chelsea Islan dikenal sebagai aktris ternama Indonesia. Selain dunia akting, Chelsea memiliki ketertarikan yang besar dalam dunia pendidikan. Hal tersebut pun ia terapkan dalam perjalanan rentang karier hidupnya.

    Perempuan kelahiran 2 Juni 1995 Ini mengatakan sejak lulus sekolah menengah atas sengaja tidak langsung kuliah. Namun ia justru mengambil praktik magang di beberapa perusahaan dengan alasan langsung belajar dari dunia nyata untuk mencari bakat dan minatnya. 

    "Saat itu aku suka dunia fashion jadi aku magang di perusahaan media lifestyle di Go Girl dan Fimela, dari sana jadi tahu banyak di balik layar bagaimana, anggapan orang mudah tetapi pas lagi dijalani juga tidak mudah," ucap Chelsea Islan dalam diskusi "Belajar Mendobrak Cara Belajar" yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rabu 6 Mei 2020.

    Chelsea Islan mengaku senang sekali bisa mengalami proses di belakang dan di depan layar saat ini. Baginya belajar tidak melulu hanya dari sisi akademis namun langsung praktik di lapangan juga pengalaman belajar.

    Kendati passion-nya tetap di akting dan dunia seni peran, Chelsea masih punya mimpi bisa membantu banyak khususnya anak-anak di pelosok negeri. "Karena terkadang kita lupa kalau mereka juga butuh bantuan. Beberapa waktu belakangan ini aku open donasi untuk anak-anak di Indonesia Timur terdiri dari 2000 paket pembelajaran untuk anak kelas 1 SDN," ucap pemeran Ayat-ayat Cinta 2 ini.

    Hal itu mengantarkan Chelsea turun langsung mengajar di lapangan pada 2018 lalu. Ia berkunjung ke daerah-daerah di pelosok Indonesia Timur dan mengamati potret pendidikan di sana, tepatnya di Sentani dan Wamena Papua.

    Chelsea Islan menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak sekolah banyak yang berangkat sekolah dengan speed boat karena tidak terjangkau akses kendaraan. Ia merasa senang sekali melihat antusias anak-anak mengikuti pelajaran dan belajar di perpustakaan apung yang ada di speed boat. "Rasanya terharu banget ya, mau sekolah effort-nya kuat banget beda kalau sama di kota-kota naik mobil sudah sampai di depan rumah," ungkapnya penuh haru.

    Ia merasakan beda sekali cara belajar di daerah, kondisi susah susah jaringan internet, televisi juga tidak semua punya, hanya pak RT biasanya yang ada. Teknologi bukan menjadi prioritas kalau pun ada teknologi di sana tentu saja membutuhkan proses adaptasi yang cukup lama.

    "Meski begitu aku merasakan semangat belajar tinggi, banyak belajar outdoor lebih banyak ide langsung di alam bebas, sungai, bukit, dan pegunungan. Jadi proses belajar langsung di alam terbuka, rasa curious dan kreatif juga mudah terbentuk," ucap Chelsea.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.