Selain Cepat Haus Ini Bahaya Makan Pedas Saat Sahur dan Buka Puasa

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi makanan pedas (pixabay.com)

    ilustrasi makanan pedas (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Makanan untuk sahur dan buka puasa harus diperhatikan. Jangan sampai makanan yang Anda makan menyebabkan gangguan selama Anda berpuasa. Bagi Anda penggemar makan pedas, tentu bertanya, apakah boleh makan pedas saat sahur dan berbuka puasa?

    Bagi penggemar makanan pedas, sensasi pedas yang berasal dari makanan yang dimakan memang dapat memperkaya cita rasa makanan dan menambah nafsu makan. Bahkan, sebuah studi menunjukkan bahwa kandungan capsaicin pada makanan pedas dapat meningkatkan energi yang dikeluarkan tubuh sehingga membantu mengendalikan berat badan.

    Namun, seorang ahli nutrisi di Dubai Health Authority menyarankan agar Anda menghindari makan pedas saat sahur maupun berbuka puasa. Pasalnya, saluran pencernaan saat berpuasa sangat sensitif dengan makanan pedas. Hal tersebut bisa menimbulkan gangguan pencernaan sehingga membuat puasa Anda menjadi tidak nyaman.

    Gangguan kesehatan akibat makanan pedas saat sahur dan berbuka puasa

    1. Memicu rasa haus
    Layaknya makanan asin, makanan pedas juga dapat membuat Anda merasa haus. Makan pedas, terutama saat sahur, dapat membuat lidah terasa panas. Hal ini yang mendorong Anda untuk minum lebih banyak. Selain itu, kenaikan suhu tubuh setelah makan makanan pedas juga akan meningkat. Kondisi ini ditandai dengan banyaknya jumlah keringat yang dikeluarkan oleh tubuh. Akibatnya, kadar air dalam tubuh akan berkurang dan memungkinkan Anda merasa haus terus menerus setelahnya.
     
    2. Menimbulkan sakit perut
    Makan makanan pedas baik saat sahur dan berbuka puasa dapat menyebabkan sakit perut atau sensasi rasa panas di dalam perut. Hal ini sangat mungkin terjadi apabila menu makanan sahur dan berbuka puasa yang dikonsumsi memang sangat pedas. Pada orang-orang yang sudah memiliki masalah pencernaan sebelumnya, seperti dispepsia (maag) dan radang usus, gejala penyakit bisa saja kambuh apabila makan makanan pedas ini.

    Timbulnya gejala gangguan pencernaan tertentu dapat membuat aktivitas puasa Anda menjadi tidak nyaman dan berisiko membuat Anda harus membatalkan puasa karena perlu minum obat. Tentu Anda tidak ingin hal ini terjadi, bukan?

    3. Meningkatkan risiko gastritis
    Gastritis adalah peradangan pada bagian dalam dinding lambung. Radang lambung dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, tetapi timbulnya gejala dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk sering makan pedas. Kandungan capsaicin dapat menyebabkan iritasi dinding lambung apabila dikonsumsi secara berlebihan. Wajar saja, mengingat perut Anda berada dalam keadaan kosong setelah seharian berpuasa. Dinding lambung dapat menipis akibat asam lambung sehingga mengalami peradangan. Lambat laun, luka dapat terbentuk pada dinding lambung dan menyebabkan tukak lambung. 

    4. Memperparah gejala tukak lambung
    Tukak lambung atau ulkus lambung adalah luka yang muncul di dalam dinding lambung, esofagus bagian bawah atau duodenum (bagian atas usus halus). Jenis penyakit ini dapat disebabkan oleh adanya peradangan yang ditimbulkan oleh bakteri H.pylori serta adanya pengikisan jaringan yang disebabkan oleh asam lambung. Selain itu, konsumsi obat-obatan antiradang dalam jangka waktu yang panjang juga menjadi penyebab tukak lambung lainnya.

    Makan makanan pedas memang bukan jadi penyebab timbulnya kondisi tukak lambung. Akan tetapi, gejalanya akan dapat terpicu atau bertambah parah jika Anda sering makan pedas saat sahur dan berbuka puasa.

    5. Sering buang air
    Sering makan pedas saat sahur atau berbuka puasa juga dapat berisiko menyebabkan Anda buang air besar terus menerus atau dikenal dengan kondisi diare. Kandungan capsaicin yang berasal dari lada dan cabai dapat mengiritasi usus kecil sehingga membuat perut terasa mulas dan anus terasa panas terbakar. Capsaicin juga dapat mengaktifkan reseptor tubuh sehingga menyebabkan makanan bergerak ke usus besar lebih cepat. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan Anda jadi sering bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air.

    Diare membuat tubuh Anda kehilangan cairan. Padahal, selama puasa asupan cairan Anda sudah berkurang. Jika diare terus menerus terjadi, kondisi ini dapat mengakibatkan dehidrasi. Anda pun jadi tidak maksimal melakukan berbagai aktivitas selama berpuasa karena tubuh merasa lelah karena kekurangan energi.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.