Ingin Bisnis Makanan saat Ramadan, Simak Tips dari Chef Ragil

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kue lumpur. Youtube.com

    Ilustrasi kue lumpur. Youtube.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Bulan Ramadan yang tinggal hitungan hari tahun ini akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya Anda bisa berbuka puasa di mana saja, kali ini Anda di rumah saja. Tak bisa lagi menikmati takjil di restoran favorit. 

    Di tengah keprihatinan ini, muncul inisiatif membuka bisnis rumahan yang bisa menghasilkan pemasukan tambahan melalui pemesanan online. Nah, bagi Anda yang juga berencana membuka usaha makanan saat bulan puasa, perlu memperhatikan makanan ready to cook dan serve yang tepat.

    Menurut Chef Ragil Imam Wibowo, proses pemasakan makanan yang siap saji tidak jauh beda, hanya terdapat beberapa trik. Misalnya bikin risol, ketika mau dijual sebagai ready to serve atau frozen food, sebisa mungkin jangan digoreng sampai matang. Anda bisa menggoreng cukup 50-60 persen bahan matang setelah itu simpan dulu freezer, begitu ada order bisa langsung kirim. Trik membekukan cocok untuk makanan-makanan yang akan disajikan panas. Jadi, pembeli tinggal memanaskannya. 

    "Sekarang kebanyakan yang saya lihat sama sekali mentah. Challenge-nya kalau mentah digoreng pasti lepas, jadi harus tetap digoreng tapi tidak boleh 100 persen," ucapnya dalam Chef Talk Live Instagram Unilever Food Solutions dengan tema Berbisnis Kuliner di Masa Penuh Tantangan, Senin 20 April 2020.

    Menurut chef gastronomi, tips paling mudah bisnis makanan bisa dimulai dari menu favorit di keluarga. Menu keluarga biasanya relevan dengan menu Ramadan.

    "Contoh paling gampang snack, sebab Indonesia surganya snack, mau manis atau asin. Enggak usah jauh-jauh, bikin saja kolak duren. Dari semua pasti beda-beda rasanya dan banyak orang doyan," ucap peraih penghargaan Koki Terbaik masakan Asia di Dunia pada 2018 ini.

    Sementara untuk pengemasan, kalau makanan awet seperti makanan kering bisa divakum.

    "Kalau belum ada vakum bisa pakai plastik khusus makanan yang banyak dijual di mana-mana. Jangan plastik kiloan karena kondisi kekuatannya berbeda jadi kurang fresh. Pakai plastik yang ada rekatnya, sebisa mungkin semua angin dikeluarkan dulu," ucapnya.

    Kemudian tips lainnya ialah menjual makanan yang bisa disimpan atau stock. Itu salah satu solusi mendapat cash balik. Lebih baik dijual dengan harga kompetitif, jangan kemahalan.

    "Ketika ada kondisi seperti ini dipaksa untuk lebih kreatif dan menyiapkan apa yang diminta oleh pasar. Prinsipnya jangan merasa takut, coba saja test pasar. Karena masa sekarang paling luar biasa," tambah Chef Ragil

    Test pasar yang sekarang efektif untuk promosi adalah WhatsApp karena bisa selalu dilihat sama teman kontak, kemudian Instagram untuk pasar normal, untuk senior ada Facebook, dan Line buat sasaran milenial. "Anda juga bisa menawarkan ke tetangga atau teman dulu. Kalau sudah lebih dari 10 baru mulai ke luar. Tahapan itu akan ada efeknya," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekaman 8 Menit 46 Detik Drama Kematian George Floyd

    Protes kematian George Floyd berkecamuk dari Minneapolis ke berbagai kota besar lainnya di AS. Garda Nasional dikerahkan. Trump ditandai oleh Twitter.