Cairan Disinfektan Mengandung Amonia, Ini Bahayanya bagi Tubuh

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi membersihkan rumah. Unsplash.com/Jeshoots.com

    Ilustrasi membersihkan rumah. Unsplash.com/Jeshoots.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejak pandemi virus corona, masyarakat semakin akrab dengan berbagai produk cairan disinfektan atau pembersih sebagai upaya mencegah penyebaran penyakit. Salah satu kandungan yang cukup umum ada dalam produk pembersih adalah gas amonia. 

    Amonia (NH3) adalah zat yang berperan penting pada banyak proses biologis dan berfungsi sebagai bahan baku untuk sintesis asam amino dan nukleotida. Di alam, amonia adalah bagian dari siklus nitrogen dan diproduksi di tanah. Amonia juga diproduksi secara alami hasil penguraian bahan organik seperti tanaman, hewan, dan kotoran hewan.

    Gas ini memiliki banyak berperan besar dalam industri kimia. Sekitar 80 persen amonia yang diproduksi oleh industri digunakan untuk keperluan pertanian sebagai pupuk. Zat ini juga digunakan sebagai gas pendingin untuk memurnikan air. Selain itu, amonia digunakan dalam pembuatan plastik, sebagai bahan peledak, tekstil, pestisida, pewarna dan bahan kimia lainnya. 

    Amonia juga banyak ditemukan dalam cairan pembersih rumah tangga. Biasanya produk amonia untuk peralatan rumah tangga memiliki kadar 5 sampai 10 persen. 

    Bahan kimia ini efektif untuk membersihkan berbagai permukaan benda, mulai dari bak mandi, wastafel, toilet, meja, dan ubin kamar mandi. Karena menguap dengan cepat, gas amonia kerap digunakan dalam larutan pembersih kaca yang efektif untuk membersihkan tanpa meninggalkan goresan.

    Meskipun banyak manfaatnya, gas amonia juga menyimpan sejumlah bahaya, diantaranya sebagai berikut. 

    1. Efek amonia yang terhirup di saluran napas
    Karena amonia dapat menguap dengan cepat, potensi untuk terhirupnya pun sangat besar. Amonia bersifat iritan dan korosif. Paparan amonia dengan konsentrasi tinggi di udara dapat menyebabkan sensasi terbakar pada hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. 

    Hal ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga kerusakan saluran napas. Amonia pada konsentrasi yang lebih rendah dapat menyebabkan batuk dan iritasi hidung serta tenggorokan. Bau gas amonia memang menyengat tetapi jika terus-menerus terpapar, hidung akan terbiasa. Akibatnya, penciuman pun tidak bisa lagi mendeteksi adanya bau amonia yang seharusnya dihindari. 

    2. Efek amonia pada kulit atau mata
    Paparan gas amonia kadar rendah dari udara atau larutan pembersih pada kulit atau mata dapat menghasilkan reaksi iritasi. Konsentrasi amonia yang lebih tinggi dapat menyebabkan cedera parah dan luka bakar. Laporan menyebutkan adanya kasus kerusakan mata permanen atau kebutaan akibat paparan gas amonia. Cedera pada mata mungkin tidak terlihat sampai satu minggu setelah paparan. 

    3. Efek amonia pada sistem pencernaan jika tertelan
    Jika amonia tertelan, maka akan terjadi kerusakan korosif pada mulut, tenggorokan, dan perut. Apabila paparan terjadi terus-menerus, kadar amonia dalam tubuh akan menumpuk. Fungsi metabolisme tubuh pun dapat terganggu dan berdampak buruk bagi sel saraf otak. 

    Amonia yang tertelan dalam jumlah sedikit biasanya tidak menyebabkan keracunan sistemik. Namun jika tertelan dalam jumlah banyak, efek sistemik seperti kejang hingga koma bisa saja terjadi. 

    Untuk menghindari bahaya amonia di atas, ada baiknya untuk menggunakannya dengan cara yang benar. Ada beberapa cara yang bisa Anda terapkan ketika harus menggunakan produk yang mengandung gas amonia, yakni:

    - Ikuti petunjuk penggunaan yang ada pada label kemasan produk pembersih yang mengandung gas amonia. 

    - Sebelum produk digunakan, pastikan ventilasi udara lancar. Anda dapat membuka jendela atau pintu saat membersihkan dengan produk amonia.

    - Gunakan sarung tangan, masker, pakaian yang tertutup atau kacamata pelindung saat menggunakan produk tersebut untuk mencegah terpaparnya amonia pada saluran pernapasan, kulit, dan mata.

    - Jangan mencampurkan amonia dengan pemutih klorin karena dapat menghasilkan gas beracun yang disebut kloramin.

    - Setelah digunakan, simpan produk pembersih yang mengandung amonia tersebut di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan anak-anak.

    Tidak ada obat khusus untuk keracunan amonia, tetapi lakukan pertolongan pertama berikut ini.

    - Jika terkena mata dan kulit, segera alirkan air mengalir dalam jumlah banyak.

    - Jika terhirup, berikan tabung oksigen untuk membantu pernapasan dan pastikan jalur pernapasan tidak terhambat.

    - Jika amonia tertelan, maka segera minum air putih yang banyak atau susu untuk menetralkan sistem pencernaan.

    - Jika terjadi situasi darurat terkait penggunaan amonia seperti keracunan, Anda dapat menghubungi pusat informasi keracunan BPOM di 1500-533. 

    SEHATQ


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jadwal Imsakiyah dan Puasa Ramadhan 1442 H - 2021 M

    Ini jadwal puasa dan imsakiyah Ramadhan 1442 H yang jatuh pada 13 April hingga 12 Mei 2021, Idul Fitri 1 Syawal 1442 H jatuh pada 13 Mei 2021.