Diklaim Bisa Hentikan Pandemi Corona, Apa Itu Herd Immunity?

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi vaksinasi (Pixabay.com)

    Ilustrasi vaksinasi (Pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Virus corona yang menyebar secepat kilat kini sudah menginfeksi lebih dari 1 juta orang di seluruh dunia. Berbagai upaya yang dicoba untuk menghentikan penyebaran, namun belum berhasil. Lalu, muncul opsi terakhir yang cukup kontroverisial untuk menghentikan pandemi ini yaitu dengan memanfaatkan herd immunity. Apa itu herd immunity?

    Herd immunity secara harafiah bisa diartikan sebagai kekebalan komunitas. Jadi, dalam satu komunitas, harus ada cukup banyak orang yang imun atau kebal terhadap suatu penyakit sehingga komunitas tersebut tidak lagi bisa diserang oleh suatu virus.

    Virus apa pun butuh inang atau tempat tinggal untuk bertahan hidup. Manusia maupun hewan bisa menjadi inangnya. Termasuk SARS-COV-2 yang merupakan virus penyebab COVID-19. Jika virus ini tidak bisa memasuki tubuh manusia, maka ia lama-kelamaan akan mati karena tidak bisa bertahan lama berada di udara terbuka.

    Jika ada cukup banyak orang dalam satu komunitas memiliki kekebalan terhadap suatu virus, maka virus tersebut akan hilang. Herd immunity sebenarnya adalah konsep yang penting dijalani agar orang-orang yang sehat, bisa melindungi orang lain di sekitarnya yang imunnya tidak bagus atau yang tidak bisa menerima vaksin karena ada gangguan kesehatan tertentu.

    Lalu, bagaimana caranya agar orang-orang tersebut bisa kebal? Ada dua cara, yaitu dengan vaksin maupun secara alami.

    - Vaksin

    Dengan vaksin, maka di tubuh orang tersebut bisa terbentuk kekebalan terhadap penyakit tertentu. Pada penyakit campak, misalnya. Sudah banyak orang yang menerima vaksin campak sehingga penyebaran penyakit ini sudah tidak sebanyak dulu. Ini bukti bahwa herd immunity terhadap campak, sudah terbentuk.

    - Dengan cara alami

    Selain dengan vaksin, agar seseorang bisa kebal terhadap suatu penyakit, maka orang tersebut perlu terinfeksi terlebih dahulu. Setelah infeksi sembuh, tubuh akan membentuk antibodi atau pertahanan yang mencegah virus tersebut kembali menginfeksi.

    Jika meniru cara alami ini, maka semakin banyak orang yang terinfeksi dan sembuh, maka semakin banyak juga orang yang kebal. Lama-kelamaan, herd immunity akan terbentuk.

    Untuk bisa mencapai herd immunity terhadap infeksi COVID-19, saat ini hanya ada satu pilihan, yaitu secara alami dengan membiarkan banyak orang terinfeksi penyakit ini. Sebab, hingga saat ini belum ada vaksin corona yang tersedia.

    Namun pertanyaannya, apakah hal tersebut setimpal dengan risiko kematian dan jumlah infeksi yang akan terjadi? Perlu diingat bahwa COVID-19 adalah penyakit baru. Saat penyakit ini muncul, belum pernah ada orang yang mengalaminya. Itu artinya, tidak ada orang yang kebal terhadap penyakit ini.

    Jadi, untuk membuat herd immunity terhadap COVID-19, diperkirakan 60 persen populasi masyarakat perlu terinfeksi dan sembuh. Ingat, harus sembuh. Jika banyak orang terinfeksi dan kemudian meninggal, maka tetap saja kekebalan komunitas ini tak akan tercapai.

    Bayangkan betapa rumitnya suasana fasilitas kesehatan jika sebagian besar orang terinfeksi virus corona secara hampir bersamaan. Tentu, kesembuhan akan semakin sulit dicapai dan berujung pada meningkatnya angka kematian.

    Lagipula, jika seluruh dunia sepakat untuk membentuk suatu herd immunity untuk COVID-19 tanpa adanya vaksin, dibutuhkan waktu bertahun-tahun. Dalam jangka waktu itu, risiko terjadinya kematian dan keparahan infeksi tetap terus ada.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekaman 8 Menit 46 Detik Drama Kematian George Floyd

    Protes kematian George Floyd berkecamuk dari Minneapolis ke berbagai kota besar lainnya di AS. Garda Nasional dikerahkan. Trump ditandai oleh Twitter.