Fogging Nyamuk Dianggap Tak Efektif Atasi DBD, Apa Sebabnya?

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Pengasapan/Fogging. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

    Ilustrasi Pengasapan/Fogging. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketika ada wabah seperti demam berdarah dengue atau DBD di suatu daerah, salah satu langkah yang diambil adalah melakukan fogging atau pengasapan. Fogging adalah menyemprotkan pestisida atau insektisida kimia dalam bentuk aerosol. Umumnya, pestisida yang digunakan adalah pyrethroids

    Ada banyak penelitian yang membedah apakah teknik fogging benar-benar efektif membasmi nyamuk. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan seperti iklim, kapan wabah mulai, hingga kekebalan tubuh masyarakat sekitar.

    Penelitian tentang teknik fogging pada 2011 lalu menyoroti bahwa ketika fogging dilakukan beberapa hari setelah puncak wabah, dampaknya tidak terlalu signifikan.

    Ketika iklim di sebuah negara mendukung banyak nyamuk muncul, fogging hanya membuat kurva epidemik lebih pelan, namun hanya sementara. Setelah fogging selesai dilakukan, populasi nyamuk bisa kembali seperti semula dengan cepat.

    Justru yang lebih berperan dalam menurunnya epidemi di suatu wilayah adalah kekebalan tubuh populasinya. Ketika jumlah kasus infeksi baru lebih sedikit dibandingkan dengan kasus sembuh, itulah kondisi efektif untuk menurunkan angka kasus infeksi DBD.

    Meski demikian, fogging adalah metode yang sah-sah saja dilakukan dengan metode yang tepat dengan memperhatikan waktu, area, dan tekniknya.

    Waktu terbaik melakukan fogging adalah pagi hari atau sore menjelang malam. Saat siang hari, nyamuk cenderung bersembunyi di area teduh.

    Fogging di luar ruangan hanya akan efektif jika bahan kimia yang disemprotkan benar-benar menyentuh nyamuk langsung.

    Semprotkan fogging saat temperatur lebih rendah sehingga aerosol akan lebih cepat turun ke tanah.

    Pilih waktu fogging saat tidak banyak angin. Ketika banyak angin, hanya sedikit partikel kimia yang ada di area tertentu dan belum tentu efektif mengusir nyamuk.

    Fogging saat pagi dan sore akan mengurangi dampak bahaya terhadap serangga lain yang justru memangsa nyamuk.

    Perlu dipertimbangkan juga meski fogging adalah metode yang bertujuan untuk mengurangi populasi nyamuk, bahan kimia dari fogging juga bisa membunuh serangga seperti lebah dan kupu-kupu.

    Jika fogging dilakukan terlalu sering namun belum tentu efektif, maka bisa terjadi ketidakseimbangan ekologi dan mengancam keragaman makhluk hidup di sekitar.

    Apalagi, fogging hanya akan membunuh populasi nyamuk dewasa dan tidak membasmi larva yang berkembang di permukaan air.

    Selain itu, fogging juga bisa menimbulkan risiko karena bahan kimia yang digunakan.

    Jika fogging adalah metode yang masih belum pasti efektivitasnya, cara yang lebih optimal untuk mengurangi populasi nyamuk penyebab demam berdarah dengue adalah melakukan eliminasi tempat-tempat yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

    Area seperti tempat sampah atau permukaan air stagnan yang tidak disadari sangat bisa menjadi tempat berkembang biaknya larva nyamuk. Apalagi, larva nyamuk tidak bisa dibasmi lewat metode fogging.

    Dengan demikian, menjaga kebersihan area dalam rumah dan juga sekitar rumah merupakan kunci mencegah munculnya populasi nyamuk penyebab demam berdarah. 

    Namun jika fogging adalah metode yang dilakukan, sebaiknya pertimbangkan beberapa hal agar benar-benar optimal dan bukan asal semprot saja.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTUN: Blokir Internet di Papua dan Papua Barat Melanggar Hukum

    PTUN umumkan hasil sidang perihal blokir internet di Papua dan Papua Barat pada akhir 2019. Menteri Kominfo dan Presiden dinyatakan melanggar hukum.