Penghasilan Tak Tentu saat Pandemi Corona? Ini Tips Mengaturnya

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perencanaan keuangan. Ploomy.com

    Ilustrasi perencanaan keuangan. Ploomy.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi virus corona memperngaruhi berbagai aspek kehidupan. Bagi sebagian orang, kejadian ini berpengaruh pada kondisi ekonomi, terutama pebisnis kuliner, penyedia jasa, atau pekerja harian.

    Perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie dalam video live di Instagram bersama psikolog Analisa Widyaningrum, memberikan kiat-kiat mengatur keuangan di tengah situasi ini.

    Menurut Prita, pandemi COVID-19 berdampak besar bagi mereka yang penghasilannya terhalang akibat pembatasan sosial, misalnya dokter yang mengandalkan pemasukan dari praktik atau pemilik restoran yang sepi pengunjung karena orang berdiam diri di rumah.

    Hal penting yang harus dilakukan adalah mengevaluasi penghasilan yang didapat selama wabah virus corona masih tersebar. Catatlah besaran penghasilan yang didapat secara rapi.

    Pekerja lepas bisa mengevaluasi aset yang mereka punya dalam bentuk uang hingga perhiasan emas. Hitung juga pemasukan dari proyek-proyek yang sudah dikerjakan.

    Kemudian, buat hitung pengeluaran apa saja selama tiga bulan ke depan. "Ada pengeluaran wajib, ada pengeluaran kebutuhan," kata Prita.

    Pengeluaran wajib yang dia maksudkan adalah cicilan, uang sekolah anak, hingga gaji untuk asisten rumah tangga.

    Sementara pengeluaran kebutuhan bisa disesuaikan dengan kondisi, seperti uang untuk makan. Dalam situasi sulit, setiap orang bisa menyesuaikan menu agar pengeluaran lebih irit.

    Yang patut diingat adalah mengetahui mana prioritas. Aturlah pengeluaran sesuai dengan kesanggupan. Jangan berfoya-foya saat pemasukan terbatas.

    "Selama tiga bulan, yang sifatnya keinginan tunda dulu karena kita tidak punya kemewahan untuk membeli keinginan. Fokusnya kewajiban dan kebutuhan," ia menegaskan.

    Jika besaran pengeluaran lebih besar dari penghasilan, selisihnya bisa diatasi dari tabungan atau dana darurat.

    "Kalau tidak yakin bagaimana penghasilan kita, mau tidak mau harus ada penyesuaian gaya hidup," ujar dia.

    Prita menyarankan untuk membagi pendapatan menjadi tiga, yakni untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan serta hiburan.

    Di masa seperti ini, sebaiknya alokasikan 70 persen pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari --termasuk membeli produk sanitasi untuk menjaga kebersihan-- dan sisanya dimasukkan ke dalam tabungan.

    "Untuk playing, jatahnya 0 persen."

    Bagaimana dengan orang yang tak punya dana darurat? Bila punya banyak cicilan, evaluasi lagi mana barang yang memang betul-betul diperlukan. Jika dirasa tidak terlalu penting, lebih baik dijual agar ada pemasukan.

    "Kalau kita punya cicilan, artinya belum ada uang untuk membeli barang itu. Kalau tidak ada penghasilan, tidak bisa dipertahankan gaya hidup seperti itu," kata Prita.

    Dari sekian banyak cicilan, entah itu motor hingga gawai, ada satu cicilan yang menurut Prita laik dipertahankan dan diperjuangkan: rumah tinggal.

    "Kalau ada pinjaman di luar itu bisa dipertimbangkan ulang. Kalau ada uangnya lagi, nanti bisa dibeli lagi."

    Masa berdiam diri di rumah jadi kesempatan untuk orang-orang yang selama ini tak sempat atau malas untuk mencatat keuangan mereka. Saat ini banyak aplikasi penunjang yang membuat pencatatan keuangan jadi lebih praktis.

    Ia mengingatkan sehat finansial adalah hal yang harus diupayakan sebab tak peduli seberapa besar penghasilan, tanpa ada manajemen yang baik, semuanya bisa "menguap" tak bersisa.

    "Jangan lupa bersyukur, bayar zakat, banyak sedekah, mungkin apa yang diperoleh itu berkat doa orang lain, barangkali harus bantu orang lain di sekitar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.