Anak Malas Menyikat Gigi Malam Hari? Hati-hati Dampak Buruknya

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rajin menyikat gigi sejak kecil.

    Rajin menyikat gigi sejak kecil.

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak Indonesia belum memiliki kebiasaan menyikat gigi di malam hari. Akibatnya, kondisi kesehatan gigi dan mulut mereka kurang baik sehingga sering mengalami sakit gigi. 

    Hal itu terungkap dalam survei global yang dilakukan Unilever bekerja sama dengan Kings College London yang melibatkan 5.000 anak dan orang tua di seluruh dunia. Survei menunjukkan, 34 persen anak di Indonesia (dengan 506 anak sebagai populasi sampel) belum membiasakan diri untuk sikat gigi di malam hari.

    Head of Sustainable Living Unilever Indonesia Foundation Dokter Gigi Ratu Mirah Afifah mengatakan, survei tersebut menunjukkan bahwa mereka belum menjadikan kebiasaan ini sebagai prioritas ataupun bagian dari rutinitas sebelum tidur.

    "Kebiasaan menyikat gigi pada malam hari yang menjadi sebuah kebiasaan penting ternyata masih sering dilewatkan oleh anak-anak maupun orang tua mereka," ungkap Ratu Mirah dalam bincang-bincang online Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia yang diadakan Pepsodent, Jumat, 20 Maret 2020.

    Ratu Mirah mengatakan bahwa anak-anak yang belum membiasakan sikat gigi malam hari berpeluang 40 persen lebih sering mengalami sakit gigi dibanding yang menyikat gigi.

    "Mereka pun menjadi lebih tidak percaya diri di sekolah, di mana 25 persen di antaranya memilih untuk tidak aktif mengikuti kegiatan sekolah. Selain itu, anak-anak yang tidak menyikat gigi di malam hari sering diejek temannya karena giginya tidak sehat, dan sepertiga dari mereka merasa rendah diri," ujar Mirah.

    Itu sebabnya, anak-anak perlu dilatih menjalani perilaku hidup sehat, termasuk di antaranya menyikat gigi pada waktu yang tepat, yaitu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.