Adakah Perbedaan Corona pada Anak dan Dewasa? Ini Kata Ahli

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis melakukan senam bersama pasien anak-anak yang terjangkit virus Corona di salah satu rumah sakit di Wuhan, Cina, 1 Maret 2020. Sekelompok petugas medis bahkan mengambil jam kerja ekstra untuk berolahraga hingga belajar bersama pasien anak. Youtube

    Petugas medis melakukan senam bersama pasien anak-anak yang terjangkit virus Corona di salah satu rumah sakit di Wuhan, Cina, 1 Maret 2020. Sekelompok petugas medis bahkan mengambil jam kerja ekstra untuk berolahraga hingga belajar bersama pasien anak. Youtube

    TEMPO.CO, Jakarta - Infeksi virus corona COVID-19 diketahui menyerang dua balita di Indonesia. Sebab itu Perwakilan Unit Kerja Koordinasi atau UKK Respirologi Anak IDAI, Dr. Darmawan B. Setyanto menyatakan butuh penanganan khusus untuk anak yang terjangkit virus corona, termasuk kawalan spesialis anak untuk pasien anak.

    Darmawan menjelaskan infeksi penyakit ini mirip dengan selesma atau common cold dengan gejala seperti batuk, pilek, dan demam sehingga menyulitkan dokter untuk dapat mengetahui diagnosis pasti COVID-19 tanpa adanya kejelasan sumber penularan. Gejala pada anak sama dengan orang dewasa, termasuk gejala dari hari ke hari. Mulai dari demam, nasfsu makan turun, badan pegal, rewel, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan suara napas. 

    "Kalau kena ke paru-paru menjadi sesak sama dengan orang dewasa. Nah bedanya kalau anak kecil yang belum bisa bicara jadi rewel atau malah tidak dirasa," papar Darmawan dalam konferensi pers online IDAI di Jakarta, Senin 16 Maret 2020. Selain itu, gejala COVID-19 pada anak tidak selalu diawali dengan demam. Sekitar 30-40 persen tidak selengkap pasien dewasa.

    Lebih lanjut Darmawan menjelaskan, secara umum virus corona menyerang sistem pernapasan yang terdiri dari 2 bagian, saluran dari hidung atau trakea (tabung pernafasan) dan bronkus (cabang batang tenggorokan). Diketahui, virus corona bisa menyerang keduanya baik saluran pernafasan dan paru-paru. Kalau menyerang saluran pernafasan mengakibatkan selesma dan common cold. Sementara jika menyerang paru bisa terkena pneumonia yang berakibat fatal.

    "Penyakit infeksi di saluran nafas ini berpotensi menular lebih cepat karena semua bernafas. Percikan dari bersin atau batuk bisa mengkontaminasi. Jika orang memegang kena maka bisa masuk ke permukaan dalam tubuh kita. Kulit tidak bisa ditembus oleh virus tapi melalui mukosa lewat mata, mulut, dan hidung mudah ditembus," papar Darmawan. Sebab itu, sangat penting menjaga jarak sejauh 1 meter dengan orang lain. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.