International Women's Day, Greta Thunberg Inginkan Kesetaraan Gender

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis iklim asal Swedia Greta Thunberg, saat menghadiri konferensi pers KTT iklim COP25 di Madrid, Spanyol, 9 Desember 2019. Usai berkemah di depan parlemen Swedia, kampanye Greta Thunberg makin membesar menjadi pergerakan global. REUTERS/Juan Medina

    Aktivis iklim asal Swedia Greta Thunberg, saat menghadiri konferensi pers KTT iklim COP25 di Madrid, Spanyol, 9 Desember 2019. Usai berkemah di depan parlemen Swedia, kampanye Greta Thunberg makin membesar menjadi pergerakan global. REUTERS/Juan Medina

    TEMPO.CO, Jakarta - Greta Thunberg ikut menyuarakan isu tentang perempuan di Hari Perempuan International atau yang dikenal International Women's Day, yang diperingati setiap tanggal 8 Maret. Greta Thunberg mengunggah potret dirinya di Instagram dengan gaya tangan yang sedang berdoa.

    Dalam kolom keterangan unggahannya itu, Greta Thunberg mengatakan jika di Hari Perempuan Internasioal ini, dia menyadari bahwa perempuan masih jauh dari kesetaraan dengan laki-laki di masyarakat saat ini. Tentunya perempuan masih memiliki jalan yang sangat panjang.

    “Mereka yang paling menderita krisis iklim dan lingkungan adalah mereka yang sudah paling rentan, secara sosial dan finansial. Dan itu cenderung adalah perempuan yang tinggal di dunia selatan. Kita tidak bisa memiliki keadilan iklim tanpa kesetaraan gender. Dan ingat apa yang wanita inginkan hari ini dan setiap hari adalah hak yang sederajat, bukan ucapan selamat atau perayaan,” tambahnya.

     

    Greta Thunberg yang memiliki nama lengkap Tintin Eleonora Ernman Thunberg adalah aktivis lingkungan mengenai perubahan iklim asal Swedia. Ia dikenal oleh publik karena aksinya mogok sekolah pada hari pemilihan umum tahun 2018 di Swedia.

    Saat itu, Greta yang duduk di kelas sembilan, memutuskan untuk tidak bersekolah setelah gelombang panas dan kebakaran hutan di Swedia terjadi. Gadis yang lahir pada 3 Januari 2003 ini menginginkan pemerintah Swedia untuk mengurangi emisi kkarbon sesuai dengan The Paris Agreement.

    Greta memprotes dengan cara duduk diluar Riksdag atau lembaga legislatif nasional dan badan pengambil keputusan tertinggi di Swedia, setiap hari selama jam sekolah dengan membawa sebuah poster bertuliskan Skolstrejk för klimatet (mogok sekolah untuk iklim).

    Setelah pemilihan umum berakhir, ia tetap melakukan aksi mogok sekolah setiap hari Jumat yang kemudia menuai perhatian dari dunia. Pada Desember 2018, lebih dari 20.000 siswa telah melakukan aksi mogok sekolah di 270 kota. Greta Thunberg menjadi inspirasi siswa sekolah di seluruh dunia untuk ikut ambil bagian.

     

     

     

     

    ALFI SALIMA PUTERI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.