Benarkah Jabat Tangan Berisiko Tertular Virus Corona?

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Dalam Negeri Jerman, Horst Seehofer, menolak jabat tangan Kanselir Angela Markel saat rapat pada Senin, 2 Maret 2020, karena takut tertular virus Corona.[En24 News]

    Menteri Dalam Negeri Jerman, Horst Seehofer, menolak jabat tangan Kanselir Angela Markel saat rapat pada Senin, 2 Maret 2020, karena takut tertular virus Corona.[En24 News]

    TEMPO.CO, Jakarta - Seiring kasus infeksi virus corona baru atau COVID-19 di berbagai belahan dunia, kebiasaan di masyarakat pun perlahan mulai diubah, setidaknya hingga kasus infeksi bisa teratasi. Sejumlah kebiasaan ini antara lain: berjabat tangan, salaman menggunakan pipi, pelukan hingga penggunaan sedotan.

    Atlet cricket dari Inggris mengubah gaya salaman setelah beredar keterangan virus Corona (COVID-19) bisa ditularkan lewat salaman. Sebagai gantinya, mereka melakukan fist bump atau bersalaman dengan saling meninjukan kepalan tangan. Sedangkan di kalangan pejabat, Menteri Dalam Negeri Jerman, Horst Seehofer menolak jabat tangan Kanselir Angela Merkel sebelum memulai rapat karena takut tertular virus Corona atau COVID-19.

    Para ahli kesehatan merekomendasikan menghindari berjabat tangan sebagai cara untuk mencegah penyebaran virus Corona. Imbauan tersebut juga dikatakan oleh DR Dr Herni Suprapti MKes, sebab virus corona bisa menyebar karena penularan kontak secara langsung. "Poinnya ada pada kontak fisik atau skin to skin contact, jika tidak kontak fisik tidak menulari," ucap Herni saar dihubungi Tempo.co, Senin 2 Maret 2020.

    Herni menjelaskan lebih lanjut, yang perlu dipahami aalah mencegah penyebaran virus. Virus ditularkan dari orang ke orang lain melalui mulut, hidung, cairan di mata. Virus berbeda dengan bakteri yang bisa hidup sendiri atau mandiri.

    "Virus perlu 'host' atau tumpangan makhluk hidup, bisa manusia, hewan, atau tumbuhan. Jadi virus tidak bisa hidup bila menclok di benda mati misalnya hape atau benda mati lainnya," ucap Doktor dari Farmakogenetik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

    Herni Suprati menambahkan sejak dulu sebenarnya pernah mengimbau bahwa kalau tidak penting-penting sekali lebih baik tidak usah semua orang diajak salaman. "Salaman selain berpotensi penularan virus juga terdapat kuman yang kita tidak tahu," ujar wanita yang berusia 66 tahun ini.

    Meski demikian, dokter yang praktik di Gleneagles Surabaya ini tidak melarang jabat tangan. Tindakan jabat tangan merupakan salah satu standar sosial pertemuan, tapi saat momen wabah virus seperti ini sebaiknya dihindari dulu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.