Benarkah Naik KRL di Gerbong Khusus Wanita Terasa Lebih Ganas?

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana padat penumpang KRL Commuterline di stasiun Tanah Abang, Jakarta, Selasa (3/6). TEMPO/Aditia Noviansyah

    Suasana padat penumpang KRL Commuterline di stasiun Tanah Abang, Jakarta, Selasa (3/6). TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Sudah menjadi cerita umum bagi kebanyakan penumpang KRL mengeluhkan gerbong khusus wanita yang lebih keras dan ganas dibanding dengan gerbong umum. Ada anggapan bahwa setiap orang merasa mempunyai hak sama untuk bisa duduk nyaman di gerbong itu.

    Tak peduli apakah ada orang lain yang punya kebutuhan khusus seperti hamil, membawa anak, lanjut usia atau sakit dan tidak kuat berdiri lama. Mengingat seluruh penumpang adalah sesama perempuan terkadang timbul perasaan setara yang bisa meningkatkan kemungkinan lebih mendominasi karena tidak ada yang mau mengalah.

    Namun, apakah kondisi dalam gerbong khusus wanita bisa membuat tekanan lebih meningkat dan menjadi lebih reaktif? Psikolog Klinis Mufliha Fahmi mengatakan sebenarnya persoalan dan perasaan demikian tidak berkaitan dengan urusan gender. "Menurut saya  baik laki-laki maupun perempuan, kalau kondisinya enggak nyaman, entah karena sempit, panas, atau apapun yang berkaitan dengan ketidaknyamanan fisik, cenderung mudah membuat seseorang cepat marah," ucap Mufliha saat dihubungi Tempo.co, Senin 24 Februari 2020.

    Soal lemah lembut dan empati yang selama ini lekat dengan wanita menurut Mufliha juga tidak berkaitan dengan jenis kelamin, tapi dengan proses belajar masing-masing orang. "Kalau dalam proses pembelajarannya lemah lembut dan empati enggak menjadi poin penting, ya akhirnya tidak dapet juga karakter lemah lembut dan empati seperti yang dimaksud," ucap Mufliha.

    Senada dengan penjelasan yang dikatakan oleh Mufliha, Sosiolog Roby Muhamad mengatakan jika kondisi gesekan yang terjadi di gerbong khusus wanita bisa terjadi di mana saja. "Di gerbong umum atau bahkan di tempat khusus anak-anak pun bisa terjadi hal serupa." Jadi ini bukan sesuatu yang unik terjadi pada perempuan saja," ucap Roby saat dihubungi Tempo.co, Selasa 25 Februari 2020.

    Hal tersebut menunjukkan kebijakan publik berdasarkan segregasi, dalam hal ini pemisahan laki-laki dan perempuan tidak selalu berhasil. "Yang lebih tepat adalah meningkatkan adab publik untuk setiap orang baik laki-laki maupun perempuan," imbau Roby.

    Mengenai edukasi yang dimaksud Roby, pihak KRL dalam tiga tahun terakhir secara rutin melakukan kegiatan edukasi mengenai perkeretaapian dan perilaku menggunakan transportasi publik melalui serangkaian kegiatan di sekolah dan sosialisasi kepada warga di sekitar rel maupun stasiun.

    Vice President Corporate Communications PT KCI Anne Purba mengatakan sejumlah kampanye dan konten di sosial media juga rutin berisi ajakan dan edukasi mengenai etika dalam menggunakan transportasi publik.

    Selain itu imbauan mengenai etika menggunakan transportasi publik, aturan, dan tata tertib menggunakan KRL juga senantiasa diberikan melalui petugas di dalam kereta dan stasiun, layar televisi di dalam KRL, dan pengumuman-penguman tertulis di kereta dan stasiun. “Program edukasi ini terus berjalan sebagai bentuk komitmen perusahaan untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa dalam menggunakan transportasi publik ada banyak hal untuk dijaga bersama antara lain ketertiban, kenyamanan, dan kebersihan,” jelas Anne.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.