Ibu Baru Dilarang Keramas? Simak 6 Mitos Seputar Melahirkan

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi ibu dan bayi. Shutterstock

    Ilustrasi ibu dan bayi. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Persalinan sudah tuntas, bayi sudah dalam pelukan, nyatanya perjalanan menjadi seorang ibu justru baru dimulai. Tak hanya tugas merawat anak saja, perawatan tradisional setelah melahirkan juga kerap menjadi hal yang membingungkan bagi seorang ibu.

    Banyak aturan seputar perawatan tradisional setelah melahirkan, tak hanya di Indonesia saja. Bahkan di negara-negara penjuru dunia pun, ada saja hal-hal yang terkesan wajib dilakukan ibu baru, bahkan terkadang tidak berhubungan dengan hal medis atau ilmiah.

    Berikut ini beberapa mitos fakta seputar perawatan tradisional ibu setelah melahirkan yang kerap dianggap wajib.

    1. Ibu baru dilarang keramas

    Ada anggapan bahwa ibu baru sebaiknya tidak keramas atau cuci rambut agar tidak masuk angin atau karena alasan budaya tertentu. Faktanya, menjaga kebersihan tubuh dengan mandi teratur justru baik dan memberikan rasa nyaman bagi sang ibu.

    2. Ibu dan bayi harus berada di rumah

    Menurut data yang dirilis WHO, budaya yang berkembang di Afrika adalah ibu dan bayi baru lahir harus berada di rumah selama sebulan penuh. Bahkan, dalam periode ini tidak boleh ada orang yang datang menjenguk.

    Faktanya, hal ini justru meningkatkan risiko bayi baru lahir meninggal dunia. Budaya yang berkembang bahkan mengharuskan bayi yang sakit menunggu hingga berusia 30 hari sebelum boleh dibawa ke dokter.

    3. Pilihan makanan dan minuman harus sangat selektif

    Di Tiongkok, ada tradisi memilih apa minuman yang boleh dikonsumsi oleh ibu baru. Biasanya, minuman yang disarankan adalah yang bersifat “hangat” seperti jahe atau jamu.

    Selain itu, makanan yang bersifat “dingin” seperti timun, kubis, atau nanas harus dihindari. Faktanya, mitos ini tidak ada hubungannya dengan kondisi kesehatan ibu.

    4. Ibu tidak boleh membaca atau menangis

    Ada juga mitos perawatan tradisional setelah melahirkan yang menyebut bahwa ibu baru tidak boleh membaca atau menangis. Konon, hal ini bisa menyebabkan mata stres dan masalah mata pada jangka panjang.

    Faktanya, tidak ada hubungan antara membaca atau menangis dengan kondisi mata. Justru yang lebih berhubungan adalah ketika seseorang mengalami kehilangan darah cukup banyak saat persalinan, hal itu bisa mengganggu kondisi mata.

    5. Tidak boleh menggunakan AC atau kipas angin

    Ada juga larangan menggunakan AC atau kipas angin ke arah bayi baru lahir. Faktanya, tidak ada salahnya menggunakan AC dan kipas angin demi kenyamanan bayi dan ibunya. Bahkan, pendingin ruangan dapat membantu mencegah ruam pada kulit bayi yang masih sensitif.

    6. Minum jamu

    Jenis perawatan tradisional setelah melahirkan yang juga populer adalah ibu diharuskan minum jamu tertentu. Tujuannya untuk membuat tubuh bersih dan lebih nyaman. Faktanya, mengonsumsi rempah seperti kunyit dan jahe memang baik karena kaya vitamin dan mineral.

    Meski demikian, sebaiknya tetap tanyakan dulu kepada dokter kandungan. Setiap ibu baru memiliki kondisi kesehatan yang berbeda sehingga risikonya juga bisa berlainan.

    Ketimbang terlalu memikirkan tentang perawatan tradisional setelah melahirkan, ada perawatan lain yang berhubungan dengan medis dan lebih krusial. Perawatan tersebut antara lain cek suhu tubuh dan kemungkinan pendarahan, memastikan pemberian ASI lancar dan mencegah mastitis atau infeksi pada jaringan payudara, memastikan nutrisi ibu optimal, dan berkonsultasi seputar kemungkinan mengalami depresi.

    Jangan sampai banyaknya perawatan tradisional setelah melahirkan justru membuat lupa dengan hal yang lebih krusial. Baik bagi ibu dan bayi, lingkungan harus benar-benar mendukung dengan memberi ruang yang leluasa.

    Bukan dengan memaksa atau bahkan meneror agar mau menjalani perawatan tradisional setelah melahirkan yang belum tentu masuk akal dari segi medis.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.