Amber Heard dan Johnny Depp Alami KDRT, Pahami Siklus Kekerasan

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Johnny Depp dan Amber Heard menghadiri pemutaran perdana film

    Johnny Depp dan Amber Heard menghadiri pemutaran perdana film "The Rum Diary," di London, Nov 2011. Keduanya terlibat cinta lokasi saat pembuatan film The Rum Diary, meskipun saat itu Depp sudah menjalin hubungan dengan Vanessa Paradis. AP/Joel Ryan

    TEMPO.CO, Jakarta - Perseteruan antara Johnny Depp dengan Amber Heard kembali menjadi sorotan. Baru-baru ini Daily Mail merilis sebuah rekaman yang diduga berasal dari sesi terapi Johnny Depp dan Amber Heard pada Minggu, 2 Januari 2020 waktu setempat.

    Amber Heard dan Johnny Depp menikah pada Februari 2015. Amber Heard kemudian mengajukan cerai pada Mei 2016 karena mengalami kekerasan verbal dan fisik. Mereka bercerai tiga bulan kemudian. Dua tahun berselang, Amber Heard sempat menyinggung tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya dalam sebuah artikel yang terbit pada Desember 2018.

    Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga pasangan Amber dan Depp seperti yang juga pernah menimpa pasangan lain ditengarai oleh berbagai faktor. Seperti dilansir dari laman Verrywellmind, Selasa 4 Februari 2020 faktor kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan adalah masalah yang sangat serius bagi para korban dan pelaku kekerasan.

    Namun ironisnya, banyak penganiaya tidak melihat diri mereka sebagai pelaku, tetapi sebagai korban atau dikenal dengan ungkapan playing victim. Alasan ini umum di kalangan penganiaya. Para ahli telah mencapai konsensus tentang beberapa karakteristik umum yang dilakukan penganiaya -mereka mengendalikan, manipulatif, sering melihat diri mereka sebagai korban.

    Satu penelitian menemukan bahwa dalam banyak kasus tindakan kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT adalah perilaku retensi pasangan, yaitu tindakan yang dilakukan oleh satu pasangan untuk mencoba menjaga dan mempertahankan hubungan mereka. Untuk beberapa pelaku kekerasan, kekerasan adalah alat untuk menjaga pasangan intim mereka atau menjaga mereka dari ketidaksetiaan, bahkan jika itu berarti secara fisik memaksa mereka untuk tetap tinggal.

    Pelaku seperti punya mainan baru dan punya tombol yang bisa membuatnya melakukan apa pun diinginkan dengan cara mengintimidasi korban. Selain itu juga upaya mengendalikan sebagai wujud bahwa pelaku merasa lebih kuat.

    Masalah kekuasaan dan kontrol sangat penting untuk memahami kekerasan dalam rumah tangga. Salah satu ialah dengan lepas dari siklus Kekerasan sebagai berikut:

    - Build-Up Phase - Ketegangan meningkat.
    - Fase Siaga - Serangan verbal meningkat.
    - Fase Ledakan - Ledakan dahsyat terjadi.
    - Fase Penyesalan - Anda seharusnya tidak mendorong saya, itu salah Anda!
    - Fase Pengejaran - Itu tidak akan terjadi lagi, saya janji.
    - Fase Bulan Madu - Lihat, kami tidak memiliki masalah!

    Menempatkan pelaku di penjara akan menghentikan kekerasan, tetapi biasanya hanya sementara karena tidak ada perawatan atau pendampingan secara psikologis yang tersedia. Masalahnya adalah, keterlibatan polisi dan penahanan sebenarnya dapat memicu kekerasan yang lebih besar dalam beberapa kasus.

    Ancaman kerusakan fisik ditambah isolasi ekonomi dan fisik yang biasanya mereka alami membuat semakin sulit bagi para korban KDRT. Sedangkan jika pergi begitu saja bisa memicu kekerasan yang semakin besar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara