5 Alasan Paling Umum Putus Cinta, Ada Pertengkaran dan Selingkuh

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi putus cinta. shutterstock.com

    Ilustrasi putus cinta. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada banyak sekali alasan mengapa pasangan putus cinta. Mulai dari masalah keuangan, perselingkuhan, hingga kurangnya komitmen. Tapi di antara banyak alasan itu, ada beberapa yang paling sering muncul.

    Berikut 5 alasan putus cinta yang sering melatarbelakangi para pasangan untuk memutuskan tidak lagi bersama.

    1. Fase bulan madu sudah berakhir

    Di awal hubungan, tiap pasangan akan mengalami fase bulan madu atau honeymoon phase. Fase ini biasanya berlangsung antara beberapa bulan hingga 2 tahun.

    Pada bulan madu, Anda dan pasangan sedang sayang-sayangnya dan lengket bak perangko. 

    Tapi tentu saja, hubungan asmara tak selamanya berada di atas angin. Ada saja hal-hal yang akan membuat Anda dan pasangan jenuh sehingga tak lagi romantis. Dengan kata lain, fase bulan madu sudah berakhir. 

    Meski fase bulan madu telah usai, bukan berarti Anda dan pasangan tak lagi saling sayang dan mendukung. Tapi faktanya, pada fase ini, banyak pasangan yang salah mengira bahwa mereka sudah tidak lagi saling mencintai. 

    Saat ini terjadi, biasanya orang-orang cenderung berfokus pada hal-hal negatif dan mengabaikan tindakan-tindakan positif yang dilakukan oleh pasangan mereka. Akhirnya, Anda dan pasangan pun memilih untuk mengakhiri hubungan.

    2. Tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan masing-masing

    Setiap hubungan tentunya diawali dengan rasa tertarik. Anda mungkin jatuh cinta dengan si dia karena sikapnya yang ramah dan selera humornya.

    Tapi seiring waktu, bisa saja hal yang awalnya membuat Anda senang tersebut malah berbalik mengganggu. 

    Lama-kelamaan, Anda mungkin saja merasa kalau kekasih Anda terlalu ramah dengan pria atau wanita lain. Hal ini kemudian berujung pada rasa cemburu. Akhirnya, argumen dan pertengkaran selalu mewarnai hubungan Anda.  

    Dalam berhubungan, tiap orang juga perlu lebih berupaya untuk berempati. Anda butuh mencoba untuk memahami kebutuhan pasangan, begitu juga sebaliknya. Dengan ini, Anda dan kekasih dapat saling berusaha guna berkompromi dan mempertemukan kebutuhan masing-masing. 

    Jika Anda atau pasangan merasa tak lagi didukung atau malah diabaikan, bukan tak mungkin hubungan akan penuh dengan konflik, yang berujung pada putus cinta. 

    3. Perselingkuhan

    Perselingkuhan adalah salah satu alasan umum dari putus cinta. Ketika seseorang selingkuh, tindakan ini akan menghancurkan kepercayaan pasangannya.

    Membangun kepercayaan tidaklah mudah dan perlu waktu yang mungkin tidak sebentar. Banyak orang yang langsung memilih untuk putus saat tahu diselingkuhi. 

    Apabila pasangan mengakui perselingkuhannya, mungkin akan lebih mudah bagi Anda untuk memaafkan dan memberikan kesempatan kedua. Tapi jika mereka tidak mengakui, tidak meminta maaf, mengulanginya berkali-kali, atau tidak berupaya untuk memperbaiki hubungan, itu juga bisa menjadi alasan di balik putus cinta. 

    4. Perilaku pasangan yang buruk

    Semua orang tentu menginginkan yang terbaik untuk pasangannya. Anda ingin si dia memiliki karier yang bagus, selalu sehat, dan hal-hal positif lainnya.

    Tapi bagaimana jika kekasih Anda malah senang merusak dirinya sendiri? Bahkan terlihat tidak peduli dengan kekhawatiran Anda?

    Perilaku pasangan yang buruk adalah salah satu penyebab utama dari kandasnya suatu hubungan. Misalnya, ketika pasangan masih sering minum-minum, padahal kesehatannya sudah sangat menurun. Anda sudah berkali-kali memperingatkan, tapi tak didengar. Anda juga tak melihat adanya upaya dari dirinya untuk memperbaiki diri.

    Hal tersebut lambat laun bisa membuat Anda dan pasangan sering beradu pendapat. Putus cinta pun akhirnya tak terelakkan. 

    5. Sering bertengkar

    Konflik bisa memicu pertengkaran, tapi bisa juga menyatukan pasangan sehingga lebih kompak. Tapi sayangnya, tak semua pasangan dapat mengatasi cobaan dengan baik.

    Beberapa pasangan cenderung sulit untuk menghadapi perselisihan dengan kepala dingin, seolah-olah semua hal harus diselesaikan dengan adu mulut dan saling berteriak.

    Alhasil, mereka bukannya merasa memiliki pasangan, tetapi musuh. Perasaan tidak aman dan sakit hati pun sangat mungkin muncul. 

    Hubungan yang baik adalah ikatan yang bisa membuat seseorang merasa aman, dilindungi, tanpa harus diwarnai dengan keributan. Jika ini tidak didapat, ujung-ujungnya hubungan tidak akan sehat dan hanya mendatangkan masalah demi masalah. 

    Jangan sampai putus cinta memenjarakan Anda dari meraih kebahagiaan dan mimpi. Bila Anda mengalami stres atau sedih berkepanjangan yang sudah mengganggu kegiatan sehari-hari, membicarakannya dengan psikolog mungkin bisa membantu Anda untuk segera pulih dan kembali beraktivitas.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.