Pakai Banyak Produk Perawatan, Perlukah Melakukan Puasa Kulit?

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kulit sehat. shutterstock.com

    Ilustrasi kulit sehat. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Perawatan kulit jadi salah satu bidang yang mengalami banyak kemajuan beberapa tahun belakangan ini. Perkembangannya luar biasa sehingga bermunculan banyak produk perawatan dari yang organik hingga senyawa baru. Tapi selain pemakaian produk perawatan, orang juga mulai membicarakan skin fasting alias puasa kulit.

    Puasa kulit adalah periode ketika Anda memberikan kesempatan pada kulit untuk bernapas tanpa menggunakan produk apa pun. Cara ini diklaim dapat membantu kulit bekerja dengan mekanismenya sendiri.

    Namun, para ahli memiliki interpretasi yang berbeda tentang hal ini. Dokter kulit selebriti Shefali Trasi Nerurkar dari India menyarankan untuk berhenti sejenak dari bahan kimia apa pun dalam bentuk pelembap, pembersih, toner, krim malam, dan tentu saja make-up selama sehari.

    Alasannya, di era ini, orang kadang-kadang berlebihan dalam perawatan kulit. “Sesekali kulit memiliki hak untuk bernapas tanpa krim atau pembersih atau toner. Ini dapat meningkatkan kualitas kulit,” kata dia, seperti dilansir Times of India, Ahad, 19 Januari 2020. 

    Dokter kecantikan Pallavi Sule berpendapat puasa kulit hanya dilakukan untuk salah satu produk perawatan saja (pilihannya adalah krim malam) selama satu atau dua malam. Menurut dia, cara ini dapat membantu kulit pulih dari proses melemahnya produksi minyak alami.

    "Ini bisa berfungsi sebagai cara detoksifikasi tetapi kulit tidak perlu detoksifikasi dari semua produk. Jenis kulit yang berbeda memiliki kebutuhan perawatan kulit yang berbeda pula. Misalnya, kulit kering akan membutuhkan pelembap. Plus kulit mengubah kebutuhannya sesuai musim,” ujar dia.

    Jadi dia menyarankan, cara yang baik untuk mempermudah puasa kulit adalah dengan menghilangkan produk-produk yang tidak sesuai dengan Anda di musim itu.

    Namun, dokter kulit asal India lainnya Soma Sarkar, menolak sepenuhnya detoks karena kurang cukup bukti ilmiah apa pun di baliknya. "Kulit membutuhkan detoksifikasi jika produk yang Anda gunakan tidak benar atau menyebabkan masalah seperti iritasi," katanya.

    Dia menyarankan Anda bisa berhenti sejenak dari make-up rutin sesekali tetapi tidak untuk perawatan kulit. “Apa yang dapat Anda lakukan tidak berlebihan dalam perawatan kulit, tetap sederhana namun penting."

    Konsep puasa kulit dimulai oleh Koko Hayashi, pendiri merek kecantikan AS Mirai Clinical yang membawa gagasan kecantikan Jepang ke dunia Barat. Dia mengklaim bahwa orang Jepang telah mempelajari regenerasi kulit setiap bulan dan membuktikan bahwa puasa kulit meningkatkan kondisi kulit Anda dan mendetoksifikasi kotoran kulit. Meskipun klaim Hayashi belum memiliki bukti ilmiah, banyak yang siap untuk melakukannya.

    Bagaimana cara melakukan puasa kulit? Sule menyarankan agar berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter kulit untuk mengetahui langkah yang tepat bagi Anda. "Jika seseorang tidak mengikuti rezim yang baik atau kita mengamati produk yang terlalu sering digunakan, jangan pakai produk itu, bukan rutinitasnya," ia mengingatkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.