Studi: 1 dari 6 Perempuan Mengalami PTSD setelah Keguguran

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita depresi. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita depresi. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Perempuan mana pun akan bersedih ketika mengalami keguguran. Tak jarang kesedihan itu berkembang jadi stres pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama. Bahkan sebagian lagi akan mengalami post-traumatic stress disorder atau PTSD. Mereka juga mengalami kecemasan dan depresi jangka panjang yang berbahaya jika dibiarkan.

    Menurut sebuah studi baru yang diterbitkan dalam American Journal of Obstetrics and Gynecology belum lama ini, sembilan bulan setelah mengalami keguguran, 18 persen wanita mengalami PTSD, 17 persen memiliki kecemasan, dan 6 persen melaporkan mengalami depresi. Artinya, 1 dari 6 perempuan yang keguguran mengalami PTSD. 

    Untuk studi ini, para peneliti di Imperial College di London dan KU Leuven di Belgia mensurvei 737 wanita yang mengalami keguguran atau kehamilan ektopik (di mana embrio menempel di luar rahim sehingga tidak dapat bertahan hidup) tentang kesehatan mental mereka pada tiga poin - satu, tiga, dan sembilan bulan kemudian.

    Hasilnya, pada bulan pertama setelah keguguran, 29 persen wanita melaporkan mengalami gejala PTSD, 24 persen mengalami kecemasan sedang hingga berat, dan 11 persen mengalami depresi sedang hingga berat.

    “Sementara angka-angka itu semua turun dengan saat sembilan bulan, tapi angka-angka itu masih sangat tinggi," kata Jessica Farren, seorang dokter kandungan dan kebidanan di Rumah Sakit St. Mary di London dan penulis utama studi ini, kepada New Scientist.

    Menurut Mayo Clinic perempuan dengan PTSD sering memiliki pikiran negatif, perasaan putus asa, terlepas dari teman dan keluarga dan mudah terkejut atau takut. PTSD juga dapat menyebabkan gangguan makan, masalah dengan penyalahgunaan narkoba atau alkohol dan pikiran atau tindakan bunuh diri.

    Farren mengatakan bahwa penelitian ini memperkuat perlunya sumber daya yang lebih baik untuk perempuan yang mengalami keguguran sehingga tidak mengalaminya.

    "Idealnya, akan ada semacam skrining [untuk gejala kesehatan mental] setelah keguguran," katanya.

    Dia menambahkan, wanita yang mengalami keguguran harus menjalani terapi terapi yang sesuai dengan perkembangannya psikologisnya. Upaya yang baru dilakukan adalah mendorong orang untuk berbicara lebih terbuka tentang masalah yang sangat umum ini.

    BBC | PEOPLE 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.