Toxic Relationship Bisa Ganggu Kesehatan, Stroke dan Jantung

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pasangan bertengkar. shutterstock.com

    Ilustrasi pasangan bertengkar. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta -  Kebanyakan orang tahu ketika hubungan mereka menjadi toxic relationship. Betapi bagi sebagian orang, toksisitas bisa begitu meresap sehingga mulai terasa normal. Setiap orang memiliki hal yang baik dan buruk, demikian juga semua hubungan pernah melewati masa-masa sulit. Cek apakah hubungan yang tengah Anda bangun berpotensi toxic dengan menjawab pertanyaan berikut ini.

    Ketika Anda bersama orang itu atau setelah Anda bersama orang itu, apakah Anda merasakan hal-hal berikut sebagian besar waktu (atau lebih dari separuh waktu?

    1. Energi terkuras secara fisik atau emosional
    2. Berpikir buruk tentang dirimu
    3. Anda selalu memberi tanpa mendapatkan kembali, atau orang lain selalu menerima tanpa memberi kembali kepada Anda.
    4. Dijauhi teman dan orang lain
    5. Terisolasi dari teman, keluarga, atau orang lain yang mendukung Anda, karena orang itu tidak ingin Anda berada di sekitar orang-orang yang toxic.
    6. Secara emosional atau fisik tidak aman atau terluka
    7. Takut

    Hubungan yang saling mendukung satu sama lain adalah anugerah besar bagi kesehatan. Namun sayangnya, tak semua hubungan berlangsung sesuai yang kita inginkan termasuk saat kita terjebak pada toxic relationship.

    Dilansir dari laman Dr. Will Cole, Jumat 9 Januari menunjukkan banyak penelitian telah menunjukkan bahwa tingkat stres kita berdampak negatif terhadap kesehatan. 

    Stres dapat meningkatkan hampir setiap masalah kesehatan seperti masalah otak, tiroid, kekebalan, dan berat badan. Tetapi lebih khusus lagi, studi Whitehall II sebuah badan penelitian terkemuka diikuti lebih dari 10.000 orang selama lebih dari 12 tahun, menegaskan bahwa hubungan toxic bisa menyebabkan stres adalah gangguan kesehatan adalah nyata.

    Menurut penelitian ini, mereka yang berada dalam toxic relationship berada pada risiko lebih besar terkena masalah jantung dan stroke, dibandingkan mereka yang hubungan dekatnya tidak negatif.

    Manusia telah mengadaptasi sesuatu yang disebut respon transkripsional kekal terhadap kesulitan (CTRA), dan sejenis ekspresi gen yang berhubungan dengan peradangan dan kekebalan rendah. Jika Anda dikejar oleh predator, CTRA memungkinkan beberapa manfaat jangka pendek yang bermanfaat, seperti peningkatan penyembuhan, pemulihan fisik, dan peningkatan kemungkinan bertahan hidup.

    Namun, stres kronis dari hubungan yang tidak sehat dapat menyebabkan aktivasi jangka panjang CTRA otak, berkontribusi terhadap peradangan kronis dan meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti kelelahan adrenalin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.