Dita Soedarjo Disorot karena Saltum, Ini Kata Ahli tentang Bully

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dita Soedarjo. Instagram.com

    Dita Soedarjo. Instagram.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengusaha muda dan influencer Dita Soedarjo tengah resah dirundung oleh warganet karena dianggap salah kostum saat mengunjungi korban banjir di kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Dalam video yang diunggahnya dua hari lalu, ia terlihat mengenakan pakaian gym, legging, dan topi merah muda. 

    Dita menanggapi perundungan warganet itu dalam sebuah unggahan lain, Rabu, 8 Januari 2020. Dia mengatakan bahwa sebagian warganet memang paling cepat berkomentar namun di sisi lain paling lambat bertindak. 

    "Hakim terakhir yang di Atas deh, urusan kekurangan masing-masing. Saya sudah berinisiatif pinjam jaket, sementara lokasi jauh dan tidak mau cancel hanya karena baju. Hampir setiap hari saya charity gak salah kostum, giliran sekali dibuat lebay banget," tulis perempuan kelahiran 1992 ini.

    Dita juga memilih mengunggah di Instagram karena dirinya mendapat teguran dari orang terdekatnya. "Sebelum menghakimi dan membuat hal kecil jadi isu, dipikirkan dulu dampaknya bisa merugikan kamu bisa ke orang lain. Kenapa tidak urusin diri sendiri dulu saja," tulisnya.

    Perundungan oleh warganet kerap kita temukan baik di media mainstream atau media sosial yang diunggah oleh publik figur. Psikolog Mufliha Fahmi yang akrab disapa Lya Fahmi ini mengajak kita memahami dulu jika menghujat di dunia media sosial sudah menjadi hal yang biasa sekali bagi banyak orang.

    "Mungkin juga merasa tidak kenal dan merasa anonim, terkadang orang bebas mau ngomong apa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya seperti apa," ucap Lya kepada Tempo.co.

    Di samping itu, lanjutnya terdapat pula orang-orang yang memang mendapatkan kepuasan dari menghujat orang lain. "Dengan merendahkan orang maka dengan cara itulah dia merasa dirinya tinggi atau merasa baik-baik saja," ucapnya.

    Untuk mengubah mindset, menurut Lya tidak bisa langsung tapi kembali pada pola asuh di masing-masing keluarga, bagaimana melihat sesuatu dengan sudut pandang luas dan kritis dalam menilai sesuatu.

    "Ajarkan dan latih anak-anak berpikir kritis agar tidak lekas menyimpulkan sesuatu yang terjadi. Apalagi kalau era kita kan cenderung belajar hafalan yang efeknya bisa menilai sesuatu dengan hitam putih," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.