Cara Mudah Atasi Diare yang Rentan Menyerang Anak dan Bayi saat Banjir

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak saat digendong orang tuanya beraktivitas di Halte Jembatan Baru, Daan Mogot, Jakarta Barat, Sabtu, 4 Januari 2020. Hingga kini warga masih bertahan mengungsi di halte tersebut. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Seorang anak saat digendong orang tuanya beraktivitas di Halte Jembatan Baru, Daan Mogot, Jakarta Barat, Sabtu, 4 Januari 2020. Hingga kini warga masih bertahan mengungsi di halte tersebut. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Curah hujan tinggi dan banjir yang melanda beberapa kawasan di Jakarta dan sekitarnya memicu beragam gangguan kesehatan. Misalnya diare yang rentan menyerang anak dan bayi. Namun, sebaiknya para ibu mengetahui cara tepat saat menghadapi anak atau bayi yang mengalami diare.  

    Dokter spesialis anak, I Gusti Ayu Nyoman Partiwi memberikan beberapa tips mengatasi diare pada anak dan bayi, melalui unggahan video singkat di laman Instagram-nya. "Diare sedang banyak pada saat musim banjir! Jadi hati2 yaa ..edukasi penanganan diare sederhana di rumah bisa diberikan oleh Ibu!" tulisnya dalam keterangan unggahannya itu. 

    Dokter yang akrab disapa dokter Tiwi ini mengatakan saat diare menyerang langkah paling tepat adalah memberikan cairan elektrolit untuk mencegah dehidrasi. “Usahakan memberikan sebanyak diare pada anak atau bayi, misal diere 5 kali, berarti setiap kali diare harus diberikan cairan eletrolit pengganti itu,” ujar dokter Tiwi dalam video tersebut.

    Dia juga memberikan cara pemberian cairan oralit yang tepat pada anak yang mengalami diare. Menurutnya, cara yang tepat adalah dengan menyesuaikan berat badan anak atau bayi. “Berat badannya berapa dikalikan 10 cc, misal 10 kilogram, per kali diare diganti dengan 100 cc atau setengah gelas dari cairan oralit, semakin sering mencret semakin banyak cairan elektrolit yang harus masuk,” katanya.  

    Kondisi lingkungan, seperti banjir mengakibatkan virus  dan bakteri menyebar dengan cepat. Dokter Tiwi pun mengingatkan agar selalu menjaga kebersihan setiap saat. “Penting menjaga kebersihan jangan lupa cuci tangan sebelum makan, mau keluar cuci tangan, sedang di tempat umum, hati-hati diare sangat menular, di kolam renang, di tempat makan, kalau keluar hati-hati,” lanjutnya, “Pilih tempat makan yang bersih, sementara jangan menyentuh apa-apa dulu terutama, anak-anak dan bayi.”

    Seperti dilansir dari laman Sehatq, secara umum penyebab diare pada anak adalah karena infeksi bakteri atau virus, seperti rotavirus dan bakteri salmonella. Dalam kasus yang jarang, diare pada anak bisa disebabkan oleh parasit, seperti giardia.

    Diare pada anak biasanya juga diikuti dengan demam, muntah, sakit perut, sakit kepala, dan dehidrasi. Penyebab lain diare pada anak misalnya tidak dapat mencerna tertentu (intoleransi makanan), alergi makanan tertentu, reaksi obat-obatan tertentu, penyakit saluran pencernaan, keracunan makanan, masalah di cara kerja saluran pencernaan, dan operasi perut.

    Selain karakteristik feses yang terlalu cair, terdapat beberapa gejala yang dapat muncul saat terjadi diare pada anak. Beberapa gejala yang dapat dialami adalah demam, menggigil, reses yang mengandung darah, rasa sakit di perut, mual atau muntah, buang air besar yang tidak dapat dikontrol, kembung di perut, serta dehidrasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.