Sebab Resolusi Tahun Baru Jarang Terealisasi, Ada Nada Negatif

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi resolusi anak jelang tahun baru. supermommy.com.sg

    Ilustrasi resolusi anak jelang tahun baru. supermommy.com.sg

    TEMPO.CO, Jakarta - Resolulsi tahun baru mestinya jadi panduan Anda untuk hidup lebih baik. Tapi sadarkah Anda, kebanyakan resolusi itu hanya terucap, tapi tidak benar-benar dilakukan.

    Dikutip dari Indian Express, kata "resolusi" merupakan penyebab utama mengapa kita memilih untuk menjauh perlahan dari daftar capaian yang ingin kita raih.

    Psikologi di balik kata resolusi adalah kata yang kuat dan banyak menuntut, seakan berkata, "Aku harus melakukannya segera!".

    Itu adalah tuntutan yang kita tempatkan pada diri kita sendiri, dan membuat pola pikir bahwa kali ini, di tahun ini, tidak boleh ada ruang untuk kegagalan lagi.

    Namun, kegagalan tidak bisa dihindari, yang akhirnya mengarah pada kekecewaan. Kita seharusnya tidak merasa terdorong untuk mencapai sesuatu, hanya karena semua orang melakukannya. Baiknya jangan berpikir tentang "apa yang harus dilakukan", tetapi "apa yang ingin kita ubah".

    Dan biasanya, sebagian besar menulis resolusi dengan nada negatif seperti, "jangan makan junk-food" atau "jangan tidur lebih dari jam 9 pagi".

    Hal ini bisa diakali dengan melakukan pendekatan kata yang lebih positif seperti, "Ayo makan makanan sehat dan biasakan bangun pagi". Perubahan kata ini diyakini bisa mempengaruhi pola pikir dan perubahan yang lebih positif dan lebih sedikit tekanan.

    Selain itu, membuat resolusi bisa dimulai dengan berpikir "SMART": Specific (spesifik), Measurable (dapat diukur), Achievable (dapat diraih), Realistic (realistis), dan Time-bound (terikat waktu).

    Dengan memperhatikan kelima topik di atas, diharapkan bisa membuat resolusi yang alih-alih menjadi beban, malah menjadi hal yang menyenangkan untuk dilakoni sepanjang tahun.

    ANTARA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mereka Boleh Tetap Bekerja Saat DKI Jakarta Berstatus PSBB

    PSBB di Jakarta dilaksanakan selama empatbelas hari dan dapat diperpanjang. Meski demikian, ada juga beberapa bidang yang mendapat pengecualian.