Hipotermia Rentan Dialami Bayi di Musim Hujan, Waspadai Gejalanya

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bayi. (Unsplash/Eric Froehling)

    Ilustrasi bayi. (Unsplash/Eric Froehling)

    TEMPO.CO, Jakarta - Hujan dan banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya membawa dampak pada kesehatan, salah satunya hipotermia. Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tiga dari sembilan korban banjir meninggal karena hipotermia. 

    Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh berada di bawah 36,5 derajat Celcius. Kondisi ini rentan dialami bayi karena lapisan lemak di bawah kulitnya yang masih tipis. saat kedinginan, tubuh mengalami kehilangan panas hingga mencapai 90 persen. Pada bayi, ini meningkatkan risiko mengalami infeksi, gangguan pernapasan, gangguan pembekuan darah, dan dapat berujung pada kematian.

    Gejala yang dapat ditemukan ketika bayi mengalami hipotermia, yaitu tampak lesu, sulit untuk makan, tangisan menjadi lemah. Kulit bayi juga dapat menjadi pucat dan terasa dingin. Pada kasus yang berat, bayi dapat mengalami kesulitan bernapas hingga hilang kesadaran.

    Pada kondisi dingin, pembuluh darah di tubuh akan menyempit. Kondisi ini akan mempengaruhi respons imunitas tubuh. Dalam keadaan tersebut, virus yang berada dalam tubuh akan berkembang biak dan menimbulkan gejala. Bayi yang memperoleh ASI eksklusif selama 6 bulan dan mendapat vaksinasi memiliki kekebalan tubuh yang lebih baik. 

    Hipotermia dapat menyebabkan perubahan pada fungsi pernapasan. Hal ini disebabkan perubahan metabolisme tubuh untuk menurunkan konsumsi oksigen dan pengeluaran karbondioksida. Selain itu, juga terjadi perubahan dalam mekanisme kontrol pernapasan.

    Gangguan pembekuan darah terjadi ketika hipotermia yang dialami cukup berat. Suhu tubuh di bawah 35 derajat Celcius menyebabkan terjadinya disfungsi platelet. Terkadang juga dapat dijumpai penurunan jumlah platelet dalam darah. Pada penurunan suhu tubuh lebih lanjut, dapat terjadi gangguan dalam  pembentukkan enzim yang berperan dalam proses pembekuan darah.

    Apabila bayi kedinginan dan menunjukkan gejala hipotermia, cobalah untuk mengukur suhu tubuhnya. Pengukuran suhu yang paling akurat dapat dilakukan melalui rektal. Bila Anda tidak memiliki termometer rektal, Anda dapat melakukan pengukuran suhu lewat ketiak.

    Hangatkan bayi dengan memasangkan pakaian tambahan, selimut tebal, atau menggunakan panas tubuh dengan memeluk bayi. Jika cara ini tidak dapat menaikkan suhu tubuh bayi, segeralah mencari pertolongan dokter atau mendatangi unit gawat darurat agar mendapat penanganan dengan cepat.

    SEHATQ

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.