Malam Tahun Baru, KPAI Imbau Orang Tua Tak Beri Anak Kembang Api

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi main kembang api. Unsplash.com/Priscilla du Preez

    Ilustrasi main kembang api. Unsplash.com/Priscilla du Preez

    TEMPO.CO, Jakarta - Malam tahun baru identik dengan kembang api dan petasan. Tak hanya di pusat-pusat keramaian seperti Monas, Ancol, atau pusat-pusat perbelanjaan, kembang api dan mercon kerap dimainkan anak-anak di rumah. Meskipun membuat malam pergantian tahun meriah, kedua hal tersebut ternyata menimbulkan risiko bagi anak, bahkan bisa menyebabkan kematian. 

    Itu sebabnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI mengimbau orang tua tidak memfasilitasi anak bermain kembang api dan mercon di malam tahun baru. Menurut data, setiap pergantian tahun baru ada korban yang berjatuhan. Pada 2014, delapan anak di Jakarta terkena ledakan mercon dan dirawat di rumah sakit, daerah Bogor ada yang hampir mengalami putus jari tangan. Di tahun yang sama, seorang bayi meninggal terkena ledakan mercon.

    Pada pergantian tahun 2017 ke 2018, seorang bocah berusia 5 tahun di Sulawesi Utara meninggal setelah terkena petasan kembang api yang tengah dipasang warga untuk menyambut pergantian tahun.

    “Kami sangat menyarankan kepada orang tua untuk membuat kegiatan edukatif dan menyenangkan bersama anak dalam pergantian tahun baru bagi yang merayakan,” kata Jasra Putra, Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, dalam keterangan persnya.

    Dikutip dari Sehatq.com, kembang api dan petasan juga mengeluarkan berbagai senyawa berbahaya seperti SO2, CO, NOx, dan hidrokarbon ke udara. Senyawa-senyawa ini sangat mengancam bagi saluran napas terutama yang menderita gangguan asma. Zat tersebut juga berbahaya bagi anak-anak, dan wanita yang sedang hamil.

    Namun, perlu diingat juga, ada beberapa bahaya yang mengintai saat bermain kembang api. Terlebih bagi Anda yang punya penyakit pernapasan, seperti asma misalnya.

    Kembang api terbuat dari berbagai bahan kimia. Setelah dinyalakan, kembang api mengeluarkan berbagai senyawa berbahaya seperti SO2, CO, NOx, dan hidrokarbon ke udara. Sehingga menurunkan kualitas udara di sekitarnya.

    Senyawa-senyawa ini sangat mengancam bagi saluran napas terutama yang menderita gangguan asma. Senyawa tersebut bisa memicu kondisi asma Anda. Selain itu zat tadi juga berbahaya bagi anak-anak, dan wanita yang sedang hamil.

    Asap kembang api  juga berisiko terhadap orang-orang yang menderita alergi, pneumonia, rinitis, laringitis, dan sinusitis. 

    Namun, bukan berarti orang tua tak bisa mengajak anak menonton pesta kembang api. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah risikonya, seperti menggunakan masker dan mengatur jarak.

    Selain kembang api dan petasan, KPAI juga mengimbau agar mengawasi anak, khususnya remaja, yang suka bepergian bersama teman-temannya tanpa didampingi orang dewasa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara