Kalah Saing, 7 Brand Fashion Global Ini Alami Kesulitan di 2019

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kendall Jenner saat tampil di Victoria's Secret fashion show 2018. Instagram.com/@kendalljenner

    Kendall Jenner saat tampil di Victoria's Secret fashion show 2018. Instagram.com/@kendalljenner

    TEMPO.CO, Jakarta - Persaingan di industri fashion global begitu ketat dengan bermunculannya merek-merek baru, ditambah dengan kondisi pasar yang tak menentu. Desainer dan perusahaan ritel harus terus berinovasi yang mampu menarik pembeli. Tak sedikit desainer dan perusahaan tak mampu mengimbanginy. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan keuangan hingga kebangkrutan. 

    Sepanjang 2019, tercatat ada tujuh brand fashion global yang mengalami kesulitan keuangan dan kebangkrutan. Berlahan-lahan mereka menutup toko-toko di sejumlah negara, bahkan sampai menjual brand yang dibangunnya dengan susah payah.

    Berikut adalah tujuh merek fesyen ritel dan rumah mode yang banyak menutup toko dan dinyatakan bangkrut.

    1. Forever 21

    Forever 21 (Dok. Forever 21)

    Merek pakaian yang didirikan oleh Do Won Chang dan Jin Sook Chang di Los Angeles pada 1984 itu, menyatakan bahwa usahanya di beberapa wilayah mengalami kebangkrutan pada September. Merek ini kemudian berencana untuk menutup ratusan toko dan melakukan restrukturisasi.

    Namun perusahaan ini tidak berencana untuk menutup bisnisnya. Sebaliknya mereka menyatakan diri bangkrut sebagai salah satu strategi untuk memperkuat bisnisnya di masa depan.

    Salah satu upaya untuk restrukturisasi adalah dengan memperkecil wilayah pemasaran dengan menutup toko di 40 negara. Forever 21 tetap beroperasi di wilayah Meksiko dan Amerika Latin, namun mengurangi toko mereka secara besar-besaran di wilayah Eropa dan Asia.

    2. Sonia Rykiel

    Merek mewah asal Perancis yang berdiri sejak 1968, Sonia Rykiel dinyatakan bangkrut di Amerika pada April 2019. Amerika merupakan salah satu pasar terbesar merek Sonia Rykiel selain di Eropa.

    Namun rumah mode ini menutup seluruh toko mereka di Amerika, disusul dengan toko-toko di Eropa. Pada Juli 2019, salah satu pengadilan Perancis menyatakan merek mewah ini ditutup dan dilikuidasi.

    Pada 2018 rumah mode ini mengalami kerugian hingga 30 juta euro (sekitar Rp 470 miliar). Beberapa investor telah menyatakan minatnya untuk mengambil alih rumah mode tersebut, termasuk mantan kepala rumah mode Balmain, Emmanuel Diemoz, serta seorang konglomerat asal Cina.

    Namun pada 12 Desember 2019, toko daring yang menjual produk fashion mewah, Showroomprive, mengumumkan akan meluncurkan kembali lini busana Sonia Rykiel.

    3. Roberto Cavalli

    Merek fesyen mewah Roberto Cavalli untuk cabang di seluruh Amerika dinyatakan bangkrut pada April 2019. Lisensi merek mewah ini di wilayah Amerika dipegang oleh Art Fashion Corp, yang kemudian ditutup, setelah seluruh toko Roberto Cavali di Amerika ditutup dan melepas lebih dari 100 karyawan.

    Roberto Cavalli, sebagai entitas, mengaku mengalami "kesulitan keuangan" dan menyusun strategi untuk dapat tetap bertahan. Perusahaan ini kemudian dibeli oleh pengembang real estat yang berbasis di Dubai, Hussain Sajwani, pada bulan November 2019.

    Cavalli sendiri membuka butiknya pertama kali pada tahun 1972 di Saint Tropez.

    4. Zac Posen (House of 'Z')

    Desainer Zac Posen (kiri) dan model Hilary Rhoda berpose di karpet merah Annual CFDA/Vogue Fashion Fund Gala ke-13 di New York, 7 November 2016. Evan Agostini/Invision/AP

    Desainer asal kota New York ini memutuskan untuk menutup rumah mode mewah miliknya pada November 2019 setelah 20 tahun berkarya. Penutupan rumah modenya itu diumumkan tidak lama setelah toko ritel mewah Barneys dinyatakan bangkrut. Beberapa busana dari rumah mode Zac Posen.

    Posen adalah salah satu desainer yang menitipkan busana rancangannya di toko ritel mewah Barneys. Posen yang dikenal dengan rancangan busana mewah ini, menyatakan terpaksa menutup rumah modenya setelah merasa kesulitan untuk mencari investor dan pembeli.

    5. Diesel

    Merek fesyen denim yang didirikan oleh Adriano Goldschmied dan Renzo Rosso di Molvena, Italia, pada 1978 ini dinyatakan bangkrut pada Maret 2019.

    Dikutip dari Business Insider, perusahaan ini mengalami kerugian di 28 wilayah di AS. Investasi perusahaan sebesar$ 90 juta juga tidak kembali sesuai waktu yang ditentukan. Selain itu, perusahaan mode denim mengklaim bahwa beberapa insiden pencurian dan penipuan menyebabkan kerugian $ 1,2 juta selama tiga tahun terakhir.

    Perusahaan belum mengumumkan penutupan toko, tetapi berencana untuk memperkuat beberapa toko yang lama dengan tujuan menghemat biaya sistem operasional.

    6. Victoria’s Secret

    Adriana Lima (kiri) dan Alessandra Ambrosio membawakan rancangan "Dream Angels Fantasy Bra" di peragaan busana Victoria's Secret 2014 di London, 2 Desember 2014. Bra bertaburkan permata ini harganya mencapai US$ 2.000.000 (Rp. 24.5 miliar). REUTERS/Suzanne Plunkett

    Merek pakaian dalam kelas atas yang didirikan oleh Roy dan Gaye Raymond pada 1977 ini menutup 53 tokonya pada 2019. Alasan penutupan toko-toko tersebut adalah karena mengalami kesulitan terkait dengan keuangan dan desain yang dianggap monoton.

    Karena kendala tersebut, pagelaran busana tahunan Victoria's Secret ini tidak digelar pada 2019. Dikutip dari CNBC, perusahaan di bawah naungan L Brands ini rata-rata telah menutup 15 toko setiap tahunnya.

    7. Gap

    Perusahaan Gap Inc. yang didirikan oleh Donald dan Doris Fisher di San Francisco pada Agustus 1969, berencana untuk menutup 230 toko sepanjang 2019 hingga 2021. Pada tahun-tahun ini Gap juga diperkirakan akan menutup lebih dari 50 toko dari sejumlah merek yang berada di bawah lini perusahaannya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

    Glenn Fredly mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020 di RS Setia Mitra, Jakarta. Glenn meninggalkan cerita cinta untuk dikenang.