Alasan Sheza Idris Tak Mau Asal Terima Endorsment Produk

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sheza Idris yang ditemui dalam peluncuran Mutouch di Jakarta, Kamis 12 Desember 2019 lebih selektif lagi dalam memilih produk yang ia endosrs. (TEMPO/Eka Wahyu Pramita)

    Sheza Idris yang ditemui dalam peluncuran Mutouch di Jakarta, Kamis 12 Desember 2019 lebih selektif lagi dalam memilih produk yang ia endosrs. (TEMPO/Eka Wahyu Pramita)

    TEMPO.CO, Jakarta -  Era media sosial turut juga mempopulerkan istilah endorsement. Tak sedikit selebriti dan figur publik yang melakukan endorsment sebuah produk, salah satunya aktris Sheza Idris. Namun, ia mengaku kini lebih selektif memilih tawaran endorsement.

    Beberapa waktu lalu tren endorsement sempat mencuri perhatian, setelah ditemukan produk kecantikan yang tidak terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM. Hal tersebut membuat ibu satu anak ini lebih selektif lagi meski produk tersebut sudah mengklaim terdaftar di BPOM.

    "Gimana ya kalau endorse produk kan itu pertanggungjawabannya besar, bukan hanya ke followers kita tapi juga ke Tuhan, terus aku bisa dosa dong. Jadi enggak bisa sampai sembarangan," ujar Sheza Idris saat ditemui di acara peluncuran Mutouch di Jakarta, Kamis 12 Desember 2019.

    Perempuan kelahiran 14 Oktober 1988 ini mengaku tidak mau tergiur dengan bayaran yang nilainya lebih tapi harus membohongi publik. Meski demikian keputusan itu tergantung masing-masing individu pelaku endorsement. 

    "Produk yang enggak aku terima itu kaya pelangsing, pemutih, vitamin kecantikan, krim malam dan krim pagi yang sifatnya personal. Jadi aku hanya terima toner, sampo, sabun, serum, pembersih wajah. Ya bisa dibilang cenderung kaku ya, tapi daripada kita bohongi diri sendiri ya gimana," ucapnya.

    Sheza Idris menjelaskan jika tawaran produk endorsement dengan klaim berlebihan hasilnya cenderung lebih instan. Hal ini menurutnya ada tahap dan proses yang terlupakan. "Bisa dibilang aku jadi ribet buat tanya-tanya produk yang mau aku endorse, misal kandungan apa saja, manfaat buat kita apa, prosesnya gimana jadi lebih real fungsi produk ya," tandas wanita bernama lengkap Drisha Wijayanka Idris. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebijakan Lockdown Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat

    Presiden Joko Widodo menegaskan kebijakan lockdown merupakan wewenang pusat. Lockdown adalah salah satu jenis karantina dalam Undang-undang.