Mengenal 2 Jenis Operasi Vagina dan Perubahan yang Dihadapi

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Miss V

    Ilustrasi Miss V

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada beragam alasan seseorang menjalani operasi miss v Mulai dari kepuasan seksual maupun pertimbangan lainnya. Operasi ini masih menuai kontroversi, apakah manfaatnya lebih besar ketimbang risikonya. Sebab itu semua pertimbangan perlu diperhitungkan sebelum menjalani operasi vagina

    Operasi vagina ada dua jenis, yaitu vaginoplasty dan labiaplasty. Operasi vagina pertama yang akan dibahas adalah vaginoplasty, yaitu prosedur yang bertujuan untuk mengencangkan vagina. Biasanya, keluhan otot vagina tak lagi kencang dialami oleh mereka yang sudah berusia lanjut atau pernah melahirkan secara normal.

    Prosedur ini diklaim dapat mengencangkan jaringan-jaringan di sekitar vagina. Meski demikian, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) masih mempertanyakan klaim tersebut. Memang benar bahwa jaringan di sekitar vagina bisa meregang, bayangkan vagina menjadi jalan lahirnya kepala bayi. Meski demikian, vaginoplasty tidak menjamin meningkatkan gairah seksual.

    Bagaimana seorang perempuan bisa lebih garang di ranjang atau kepuasan pasangan tidak hanya dinilai dari seberapa kencang vagina saja. Ada banyak faktor lain yang berpengaruh seperti emosi, psikologis, hingga faktor-faktor interpersonal.

    Jenis lainnya adalah Labiaplasty, operasi yang dilakukan pada “labia” atau bibir di sekitar vagina – atau lebih tepat disebut dengan vulva. Operasi ini bisa dilakukan tanpa harus menjalani operasi vaginoplasty.

    Prosedur dapat dilakukan baik pada labia mayora atau labia minora, kedua bagian dari vulva yang besar dan kecil. Tujuannya adalah mengubah ukuran labia terutama apabila bentuk vagina dirasa tidak simetris. Rata-rata panjang labia adalah sekitar 12 cm dengan kedalaman 10 cm. Namun pada orang-orang dengan bentuk vagina tidak biasa, bisa saja kondisi labia berpengaruh terhadap bagaimana mereka buang air kecil, haid, hingga penetrasi seksual. 

    Prosedur vaginoplasty dan labiaplasty

    Sementara untuk prosedurnya, vaginoplasty dilakukan dengan menentukan seberapa rapat miss v sesuai dengan permintaan pasien. Kemudian, akan diberi tanda bagian kulit ekstra mana di dalam vagina yang akan dibuang. Kemudian, jaringan tertentu di vagina akan dijahit untuk membuat vagina lebih kencang. Prosedur vaginoplasty bisa dilakukan dengan anestesi lokal atau total.

    Setelah vaginoplasty rampung, pasien akan diminta tidak beraktivitas berat selama 1-2 minggu. Biasanya, pasien akan merasakan gatal pada beberapa hari pascaoperasi. Hingga 8 minggu kemudian, pasien diminta tidak menggunakan tampon atau berhubungan seksual.

    Sedangkan untuk labiaplasty, prosedur ini tidak disarankan untuk perempuan berusia di bawah 18 tahun karena labianya masih dalam tahap pertumbuhan. Sama seperti vaginoplasty, prosedur labiaplasty bisa dilakukan dengan anestesi lokal atau total.

    Prosedur dilakukan dengan membuat labia lebih pendek atau mengubah bentuknya. Jaringan yang tidak diinginkan di sekitar labia bisa dilepas dengan laser. Bagian yang tertinggal kemudian dijahit. Perlu waktu sekitar 2 minggu hingga kulit sekitar labia bisa benar-benar pulih. Selama periode tersebut, pasien akan diminta menghindari aktivitas fisik dan seksual, tidak menggunakan pakaian dalam terlalu ketat, dan memastikan area bersih dari infeksi.

    Perubahan usai operasi vagina

    Perlu digarisbawahi bahwa operasi vagina berbeda dengan operasi kosmetik. Operasi vagina seperti vaginoplasty dan labiaplasty dilakukan untuk mengoptimalkan atau mengembalikan fungsi vagina dan labia. Sementara operasi kosmetik adalah prosedur estetika untuk mengubah anatomi normal vagina. Ada perbedaan besar di sini, termasuk soal tujuannya.

    Operasi vagina kerap kali dilakukan setelah pasien dan dokter berdiskusi tentang fungsi vagina yang tak lagi optimal, seperti kesulitan menahan buang air kecil (stress incontinence), mengurangi kondisi kering vagina, perubahan struktural vagina setelah persalinan, penurunan fungsi vagina akibat penuaan, rasa sakit dan gatal di vagina serta rasa sakit saat berhubungan seksual. 

    Di sisi lain, selalu ada risiko yang mungkin terjadi ketika seseorang menjalani operasi vagina. Bisa saja hasil akhirnya tidak sesuai dengan ekspektasi. Selain itu, ada kemungkinan terjadi infeksi, pendarahan, munculnya jaringan parut, hingga menurunnya sensitivitas vagina. Untuk itu, perlu pertimbangan matang-matang sebelum melakukan operasi vagina.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.