Tren Suntik Putih untuk Kulit, Ini Risikonya untuk Kesehatan

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kulit sehat. shutterstock.com

    Ilustrasi kulit sehat. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebanyakan perempuan Indonesia masih menyukai kulit putih cerah dibandingkan dengan kulit berwarna yang sehat. Kondisi itu membuat klinik-klinik kecantikan tumbuh subur, mereka menawarkan metode suntik putih. 

    Bahkan, para pesohor di Indonesia, sebut saja Barbie Kumalasari terang-terangan mengaku dan mempromosikan perawatan suntik putih yang dia lakukan seminggu sekali.

    "Pasalnya orang Indonesia masih mendambakan kulit putih, mereka enggak ngerti kalau dasarnya kulit Indonesia sama orang Korea, misalnya, itu kan beda. Tak ada produk yang sudah dapat lisensi BPOM itu bisa bikin kulit langsung putih. Namanya skincare hanya bisa merawat, semakin sering dirawat maka semakin bersih dan sehat," kata Maharani Kemala pendiri produk kecantikan dan klinik estetika MS Glow beberapa waktu lalu.

    Padahal, suntik kecantikan untuk membuat kulit putih memiliki sejumlah efek negative, jika tidak dilakukan dengan benar oleh pakar, mulai dari emboli udara sampai infeksi sistemik yang bisa menyebabkan kematian.

    "Laporan kasus morbiditas pada penyuntikan vitamin pencerah kulit umumnya memberikan sebab penggunaan alat tidak steril, cara penyuntikan salah, dan obat palsu sebagai sebab masalah kesehatan serius pada pasien seperti emboli udara, alergi berat sindrom steven johnson, sepsis atau infeksi sistemik, dan lain-lain," kata pakar dermatologi, dr Eddy Karta SpKK.

    Eddy menyebut kasus kematian akibat suntik putih bahkan mencapai 75 persen.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cegah Covid-19, Kenali Masker Kain, Bedah, N95, dan Respirator

    Seorang dokter spesialis paru RSUP Persahabatan membenarkan efektifitas masker untuk menangkal Covid-19. Tiap jenis masker memiliki karakter berbeda.