Ibu Melahirkan Caesar Produksi ASI Lebih Sedikit? Intip Faktanya

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi menyusui. factretriever.com

    Ilustrasi menyusui. factretriever.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada anggapan bahwa melahirkan dengan operasi Caesar menyebabkan produksi ASI lebih sedikit dibandingkan dengan persalinan normal. Akibatnya, tingkat keberhasilan pemberian air susu ibu atau ASI eksklusif pun lebih rendah. Benarkah?

    Menurut pakar laktasi Ameetha Drupadi, sebenarnya tak ada perbedaan produksi ASI antara ibu yang melahirkan dengan operasi Caesar dengan normal.

    “Sama saja. Begitu bayi lahir, hormon menyusui meningkat,” kata Ameetha yang ditemui di acaraa ulang tahun kedua aplikasi Teman Bumil di Jakarta, Kamis, 28 November 2019.

    Produksi ASI dipengaruhi oleh dua hormon, yaitu prolaktin yang memproduksi ASI dan oksitosin yang membantu mengeluarkannya. Kedua hormon ini bekerja lebih optimal ketika bayi menyusu secara langsung.

    “Oksitosin berhubungan dengan perasaan cinta. Jadi, selama ibunya happy, tidak stres, ASI akan keluar,” kata Ameetha. 

    Meski produksi ASI sebenarnya sama, Ameeta mengungkapkan kemungkinan munculnya anggapan tersebut. Menurut dia, proses melahirkan dengan operasi Caesar membuat ibu harus bedrest selama 24 jam sehingga bisa mempersit perlekatan bayi saat menyusui. Perlekatan adalah momen ketika bayi mulai mengisap payudara dengan memasukkan puting dan areola ke mulutnya.  

    Perlekatan yang tidak sempurna membuat bayi tidak dapat menyusu dengan baik. Akibatnya, ASI yang dikeluarkan jadi lebih sedikit yang artinya stimulasi dan rangsangan untuk memproduksi ASI juga sedikit.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.