Me Time ala Sandra Dewi demi Menghindari Stres Setelah Melahirkan

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sandra Dewi. Instagram

    Sandra Dewi. Instagram

    TEMPO.CO, Jakarta - Perubahan hormon ditambah dengan rutinitas baru setelah melahirkan kadang-kadang bisa membuat seorang perempuan stres. Jangankan bersantai, merawat tubuh saja tak sempat. Apalagi jika punya anak lain yang juga masih kecil seperti Sandra Dewi

    Sandra Dewi yang melahirkan anak keduanya, Mikhail Moeis, pada 2 September 2019, mengaku sempat mengalaminya. Apalagi anak pertamanya, Raphael Moeis, belum berumur dua tahun. Tak ada waktu baginya untuk me time. Tubuhnya tak terawat, rambutnya bahkan sempat mencapai bokong karena tak sempat ke salon. 

    “Habis melahirkan lalu buka Instagram, lihat cewek cantik-cantik, rambutnya bagus. Kesel,” kata dia sambil tertawa, ketika ditemui di perayaan ulang tahun kedua aplikasi Teman Bumil di Jakarta, Kamis, 28 November 2019.

    Merasa makin stres melihat tubuhnya yang tak terurus, Sandra pun membuat kesepakatan dengan suami. Setiap weekend, suami menjaga anak-anak dan dia meluangkan waktu untuk me time.

    “Saya bawa orang salon ke rumah, meni pedi dan potong rambut di rumah aja,” ujar dia.

    Tapi ternyata itu belum menuntaskan masalah. Suaminya yang melihat Sandra masih suka marah, akhirnya memintanya jalan-jalan ke mal untuk sekadar makan atau beli baju. Dia tidak sendiri, suaminya menemani.

    “Jadi sekarang setiap Jumat, ketika anak-anak tidur, kami memutuskan ada waktu berdua. Makan satu jam, nonton dua jam, jadi total tiga jam sebelum mereka bangun. Selesai nggak selesai harus pulang,” ujar dia.

    Walaupun hanya tiga jam di luar rumah, Sandra mengaku sangat bahagia. “Bukannya nggak sayang anak, tapi seorang ibu harus tetap ada me time. Me time itu penting agar kita tetap waras,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.