Rebecca Ferguson Nonton Film Horor Demi Doctor Sleep

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rebecca Ferguson. Instagram.com/_rebeccaferguson_

    Rebecca Ferguson. Instagram.com/_rebeccaferguson_

    TEMPO.CO, Jakarta - Film Doctor Sleep merupakan film adaptasi diadaptasi dari novel karya Stephen King dengan judul yang sama. Film arahan Mike Flanagan ini merupakan sekuel dari film The Shining yang rilis pada 1980. Film Doctor Sleep mengisahkan kilas balik masa kecil Danny Torrance yang diperankan Ewan McGregor. Sedangkan, Rebecca Ferguson yang berperan sebagai Rose the Hat menjadi musuh yang diburu oleh Danny Torrance dan Abran Stone yang dilakoni Kyliegh Curran.

    Seperti sejumlah aktris yang menempuh persiapan untuk akting optimal, Rebecca Ferguson juga menjalani beragam persiapan sebelum syuting. Khusus film ini, Ferguson menguatkan diri untuk menonton film horor lainnya. 

    Mengutip laman The Guardian, ia mengaku menonton film horor, merupakan cobaan untuknya. Sebab ia tidak menonton film horor, tidak berani, dan benci hal-hal yang mendadak. “Saya memiliki refleks mengejutkan yang buruk,” kata aktris asal Swedia ini. "Jika kamu melompat keluar tiba-tiba, aku akan memukulmu,". 

    Rebecca Ferguson, aktris asal Swedia. Instagram/@_rebecca_ferguson

    Tapi akhirnya ia mengalah, dengan satu syarat: tidak ada badut, tidak ada anak. "Saya benci tampilan badut," tutur aktris berusia 36 tahun ini. “Benci kebutuhan mereka akan perhatian. Benci kesedihan seorang badut. Dan anak-anak karena, yah, anak-anak itu benar-benar menakutkan. Dan ia berkata, 'Mari kita perhatikan Annabelle.' Yaitu tentang badut dan anak-anak! "

    Dari hasil dari menonton film horor, Rebecca Ferguson mengerti aksi kehilangan kendali dan adegan mendadak adalah hal yang positif. Film-film horor memungkinkan ketakutan yang terkendali - penonton tahu ketakutan itu akan berakhir - dan dengan cara itu film horor mempunyai sensasi tersendiri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.