6 Tips Pakai Masker Peel-Off yang Tepat untuk Kulit Wajah

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi masker hitam (pixabays.com)

    Ilustrasi masker hitam (pixabays.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Perubahan musim tentu membutuhkan perubahan pada rutinitas perawatan kulit yang lebih melembabkan. Ada masker lembaran, krim, dan tentu saja masker peel-off. Khusus untuk masker peel-off, yakinlah masker yang digunakan sesuai dengan kebutuhan kulit.

    Namun ada beberapa perbedaan khusus untuk masker peel-off. Meski Amda cenderung dan merasakan hasil secara instan setelah menghapusnya, Anda mungkin salah menggunakannya selama ini. Mulai dari lupa mengatur waktu, erlalu banyak menggunakan produk, atau menggunakan formula yang salah. Berikut ini kesalahan umum dan beberapa tips menerapkan (dan menghapus) masker peel off dengan benar.

    1. Terlalu sering menggunakan

    Masker peel off kadang sebagai salah satu cara untuk meredakan stres. Tapi sebaiknya jangan terlalu sering menggunakannya apapun jenis kulit Anda. Batasi saja hingga tidak lebih dari sekali seminggu. "Masker peel-off unik karena membentuk film di atas kulit setelah pengeringan, menciptakan lapisan kohesif yang memungkinkan Anda untuk 'melepasnya," kata Erum Ilyas, dokter kulit bersertifikat dan pendiri lini pakaian yang aman dari sinar matahari, AmberNoon. "Tetapi jika Anda tidak menyisakan cukup hari di antara aplikasi, Anda mungkin akan menghadapi pengeringan yang berlebihan, kemungkinan iritasi, dan pori-pori tersumbat."

    2. Tidak menyesuaikan dengan jenis kulit
    Ada banyak jenis masker yang tersedia di toko kecantikan. Dari masker busa yang berbusa hingga yang dihilangkan secara magnetis, menemukan masker yang tepat untuk Anda bisa menjadi tugas yang menakutkan jika Anda melakukannya secara membabi buta. "Jika Anda memiliki kulit kering, cari masker yang memiliki asam hialuronat atau gliserin," kata Ilyas. “Kulit berminyak akan mendapat manfaat dari tanah liat atau arang sebagai bahan sementara lidah buaya dapat membantu menenangkan kulit yang sensitif dan teriritasi.”

    3. Menggunakannya terlalu lama
    Tak sedikit yang lupa menggunakan masker peel-off dalam waktu yang tepat.. Menurut Dr. Ilyas, Anda harus berhati-hati meninggalkan produk terlalu lama karena dapat mengiritasi kulit, terutama jika Anda menggunakan masker dengan aroma khusus. Kebanyakan petunjuk di kemasan masker akan mengarahkan Anda untuk menghapus dengan lembut segera setelah kering (tetapi ketika mereka mengatakan dengan lembut, mereka benar-benar berarti dengan lembut).

    4. Terlalu agresif
    Memang ada sesuatu yang aneh dan memuaskan saat melepaskan masker peel-off. Kendalikan kegembiraan Anda dan melepaskan perlahan-lahan (mulai dari samping). Menurut Dr. Sandy Skotnicki, ahli dermatologi dan penulis buku perawatan kulit terlaris Beyond Soap, Anda akan tahu bahwa Anda ahli menggunakan masker peel –off jika Anda dapat melepaskan masker dalam satu potong. "Ini biasanya fungsi menggunakan jumlah yang tepat dan membiarkannya cukup lama hingga benar-benar kering,” ujar Skotnicki seperti dilansir dari laman Byrdie.

    5. Menggunakan banyak masker
    Jika Anda memiliki masalah perawatan kulit yang berbeda yang ingin Anda tangani, misalnya berminyak di area T, tapi pipi Anda cenderung kering, lebih efektif untuk mengganti masker peel off Anda setiap minggu daripada mencoba menangani dua masalah sekaligus. Anda tidak akan menghadapi risiko pencampuran masker, yang dapat menyebabkan pembakaran. Plus, waktu pengeringan bervariasi dan mungkin ada masalah membiarkannya terlalu lama.

    5. Waxing atau Threading sebelumnya
    Baik menggunakan masker dan waxing menghilangkan lapisan sel kulit mati, dan melakukan keduanya secara bersamaan dapat membuat kulit Anda terasa mentah dan sensitif. Hasilnya justru berpotensi mengekspos kulit Anda terhadap bakteri, yang mengarah munculnya jerawat, kemerahan, dan iritasi. Intinya, sisakan waktu yang cukup di antara perawatan kecantikan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.