Nikah Muda Berisiko Lahirkan Anak Stunting, Ini Sebabnya

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi pernikahan muda (pixabay.com)

    ilustrasi pernikahan muda (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pernikahan  di usia remaja mendatangkan banyak risiko, salah satunya adalah melahirkan anak kerdil atau stunting.

    Hal itu diungkapkan Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (FEMA-IPB), Ujang Sumarwan. Menurut profesor ini, kasus anak kerdil dibanding usianya banyak ditemukan pada keluarga yang menikah usia muda.

    "Ketidaksiapan secara fisik dan mental pada ibu yang hamil pada usia muda mengakibatkan berbagai tantangan selama proses kehamilan hingga melahirkan," kata Ujang di Bogor, Jumat, 25 Oktober 2019.

    Dalam jangka panjang, terbatasnya pengetahuan ibu tentang pentingnya persiapan gizi pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan juga meningkatkan risiko anak mengalami gangguan pertumbuhan hingga stunting.

    Terkait hal itu, Ujang mengatakan walau ekonomi terus tumbuh, di bidang gizi dan kesehatan, Indonesia masih dihadapkan dengan berbagai tantangan termasuk stunting.

    "Saya meyakini edukasi remaja adalah sebuah terobosan karena peningkatan pengetahuan gizi sebelum memulai keluarga akan berkontribusi pada kesadaran akan kesehatan ibu dan anak di masa penting dalam kehidupannya, termasuk memutus rantai persoalan stunting," ujar dia.

    WHO menyebutkan usia remaja dimulai dari usia 10 hingga 19 tahun. Ketika memasuki masa ini remaja mengalami perubahan fisik, fungsi reproduksi, psikis dan sosial. Sayangnya, dalam masa perubahan tersebut, remaja banyak yang mengalami kekurangan gizi.

    Data Studi Diet Total (2014) menunjukkan bahwa remaja di Indonesia usia 13-18 tahun mengalami defisiensi protein dan energi yang menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada ibu dan janin.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.