Konflik Medina Zein - Irwansyah, Ini Pola Interaksi yang Tepat

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Medina Zein. Instagram/@medinazein

    Medina Zein. Instagram/@medinazein

    TEMPO.CO, JAKARTA - Pengusaha dan selebgram Medina Zein melaporkan artis Irwansyah ke Polrestabes Bandung terkait kasus penggelapan senilai Rp 1,9 miliar. Masalah ini pun berbuntut panjang, tak hanya soal bisnis tapi juga masalah pribadi yang dianggap sensitif.

    Dalam percakapan WhatsApp yang diunggah Medina Zein dalam Instagram Story-nya, Lukman Azhari, suami sekaligus kuasa hukumnya, dianggap menyinggung perasaan Zaskia Sungkar, istri Irwansyah yang belum memiliki anak. Sementara Medina tidak bermaksud demikian, karena ia juga merasa disepelekan soal stok ASI perah untuk bayinya yang masih menyusui.

    Lalu sebaiknya bagaimana pola atau etika berinteraksi yang baik tanpa ada salah satu yang tersinggung, termasuk di media sosial? Psikolog Nuzulia Rahma Tristinarum mengatakan kalau bicara etika berinteraksi tentu kita sama sama paham bahwa dalam relasi sosial perlu adanya harmonisasi. "Saling menghormati, saling menghargai, saling memberi, saling empati. Intinya harmonisasi dibangun oleh kedua belah pihak. Bukan satu pihak saja," ucapnya saat dihubungi Tempo.

    Menurut Nuzulia, jika ada hal yang tidak disukai atau tidak nyaman atau ada masalah dalam hubungan tersebut, yang perlu dilakukan adalah bicarakan baik-baik langsung pada orangnya. Bicara di ruang tertutup, bukan diumbar di media sosial.

    "Jika dari pembicaraan tersebut memang tidak ditemukan kesepakatan, maka boleh bermusyawarah kembali dengan dibantu orang orang yang bisa menjembatani. Jika memang tidak ditemui kesepakatan juga dan jika kasusnya terkait hukum, boleh diselesaikan dengan hukum yang berlaku," ucapnya.

    Tips saat ingin mengutarakan permasalahan ialah fokus pada masalahnya, jangan merembet ke urusan pribadi yang tidak berhubungan dengan masalah tersebut. Selain itu, fokus pula pada data dan fakta jangan berasumsi. "Jika belum ditemukan kesepakatan atau belum berdamai, wajar ya merasa kesal atau marah. Namun tetap dibutuhkan kebesaran jiwa dan akal sehat untuk tidak curhat di media sosial," lanjutnya.

    Namun, jika "pihak lawan" curhat di media sosial dengan mengungkapkan hal-hal negatif sebaiknya tidak membalas melakukan hal yang sama. Ini karena jika sudah saling curhat di media sosial, persoalan akan makin besar begitu juga dengan kebencian.

    Memang diperlukan kebesaran jiwa, hati yang tenang dan akal sehat untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa. Kualitas seseorang bisa dilihat dari bagaimana dia mampu mengelola kemarahan dan kejengkelannya pada pihak lain.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.