Stella McCartney dan Adidas Buat Bra Khusus Mastektomi

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Stella McCartney (Instagram @stellamccartney)

    Stella McCartney (Instagram @stellamccartney)

    TEMPO.CO, JakartaStella McCartney berkolaborasi dengan Adidas merilis bra olahraga mastektomi untuk wanita pasca operasi. Bra yang akan diluncurkan pada Jumat, 4 Oktober 2019 ini dibuat khusus untuk menghormati Bulan Kesadaran Kanker Payudara.

    Stella dan Adidas bekerja sama dengan Monica Harrington, seorang stylist dan konsultan pakaian dalam yang bekerja dengan remaja, wanita post-natal, wanita transgender, dan wanita yang pernah memiliki operasi mastektomi.

    Bentuk bra dirancang untuk menghindari area bekas luka pascaoperasi sekitar payudara. Bra ini juga dilengkapi dengan ritsleting depan sehingga pemakainya dapat mengenakannya dengan mudah. Tali dapat disesuaikan sesuai dengan ukuran pembengkakan dan terdapat kantong tersembunyi.

    Bra khusus mastektomi Adidas x Stella McCartney (Istimewa)

    ADVERTISEMENT

    "Dengan bra olahraga pasca-mastektomi ini, saya benar-benar ingin mendorong wanita untuk menjaga kesehatan mereka melalui kesehatan dan perawatan diri," kata Stella seperti dilansir Vogue, Kamis, 3 Oktober 2019.

    Ia mengatakan bra ini mendukung pemulihan pasien selama perjalanan pascaoperasi kanker payudara. Ia berharap ini  dapat memberi mereka kepercayaan diri untuk kembali pulih. "Ini juga memiliki tampilan yang keren dan modern yang akan membantu memotivasi pemakainya serta meyakinkan mereka bahwa mereka tidak aneh di gym.”

    Stella McCartney kehilangan ibunya, Linda, karena kanker payudara. Sejak itu, sang desainer menganjurkan pendidikan dan kesadaran seputar penyakit ini. Mulai 2014, ia menjalankan Breast Cancer Awareness Campaign setiap tahun dengan labelnya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?