Kim Kardashian Promosi Korset Pelangsing, Awas Bahayanya

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kim Kardashian berpose saat menghadiri Creative Arts Emmy Awards 2019 di Los Angeles, AS, 14 September 2019. Kim tampil chic dengan gaun hitam. REUTERS/Monica Almeida

    Kim Kardashian berpose saat menghadiri Creative Arts Emmy Awards 2019 di Los Angeles, AS, 14 September 2019. Kim tampil chic dengan gaun hitam. REUTERS/Monica Almeida

    TEMPO.CO, Jakarta - Kim Kardashian kerap mempromosikan beberapa tren yang mencuri perhatian publik selama bertahun-tahun, dari sandal jepit hingga celana pendek untuk bersepeda. Begitu juga dengan peluncuran produk terbarunya yang bisa sangat berbahaya bagi kesehatan Anda.

    Wanita berusia 38 tahun ini mempromosikan produk terbaru dari merek pakaian dalam miliknya, SKIMS. Dia mulai dengan waist trainer atau semacam korset, yang terus terjual habis dalam setiap ukuran dari XXS hingga 4XL dalam waktu kurang dari 24 jam. "Mereka hanya membuat saya merasa benar-benar berubah dengan cepat" jelas Kardashian dalam sebuah video di laman Instagram-nya baru-baru . Dia terlihat menggunakan korset seharga USD 68 atau Rp 966 ribu, yang terinspirasi ikat pinggang yang dikenakan dan dicintainya selama bertahun-tahun.

    Kim Kardashian mempromosikan produk waist trainer dari merek pakaian dalam terbarunya, SKIMS di Instagram pribadinya. Instagram/@kimkardashian

    Tetapi meskipun Kim Kardashian mengklaim korset ini langsung menghilangkan beberapa centi meter lingkar pinggang, menurut ahli ini bukan solusi jangka panjang untuk mengecilkan pinggang. "Walaupun terlihat cepat dan mudah, korset itu tidak benar-benar membakar lemak atau membuat berat badan berkurang, dan mungkin ada banyak efek samping yang berbahaya," ujar Dena Barsoum, ahli fisiologi bersertifikat di bidang Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di Rumah Sakit untuk Bedah Khusus di Amerika Serikat, seperti dilansir dari laman Page Six Style.

    Dena Barsoum menjelaskan lebih lanjut bahwa ada alasan mengapa tubuh kita memiliki bentuk seperti itu. “Waist trainer menekan semua yang ada di perut; bukan hanya otot dan kulit Anda, tetapi usus, lambung, hati, limpa dan ginjal Anda, dan semua itu membutuhkan ruang untuk berfungsi,” ujarnya.

    Kim Kardashian, berpose saat menghadiri acara pembukaan Met Gala 2018 Heavenly Bodies: Fashion and the Catholic Imagination di The Metropolitan Museum of Art's Costume Institute di New York, 8 Mei 2018. REUTERS/Carlo Allegri

    Akibatnya, orang yang memakai waist trainer dapat mengalami gangguan pencernaan dan mulas - atau lebih buruk lagi, tulang rusuk dapat retak dan saraf terjepit. Meski Kardashian menganggap waist trainer itu sebagai hadiah yang sempurna untuk teman-temannya yang hamil, Dr. Barsoum mengatakan ada banyak cara yang lebih baik bagi ibu baru untuk bangkit kembali setelah melahirkan.

    “Dapat dimengerti bahwa wanita sangat ingin mengembalikan bentuk tubuh sebelum melahirkan, tetapi di antara pola makan dan olahraga yang sehat dan seimbang, Anda dapat menurunkan berat badan dengan cara yang sehat - dengan aman, seiring waktu - yang memungkinkan Anda menjaga berat badan itu,” ujarnya. “Sedangkan dengan korset tidak menyebabkan Anda menurunkan berat badan, justru hanya mendorong organ-ogan ke arah yang berbeda."

    Walaupun bahan yang digunakan untuk korset diklaim lebih sedikit lebih aman dari perspektif kesehatan, Barsoum mengingatkan Anda tidak harus mengharapkan lingkar pinggang terlihat seperti Kim Kardashian di Met Gala segera setelah mengikat diri. "Semua orang mencari perbaikan cepat dan mudah untuk mencapai bentuk dan berat yang mereka inginkan, apakah itu diet atau korset, terutama ketika ada selebritas dan influencer media sosial mengatakan hal-hal ini adalah rahasia terbaik di luar sana," ujar Barsoum.

    Menurut dia, biasanya selebritas itu berlatih dengan seorang pelatih khusus siang malam. “Dan tim media sosialnya memastikan foto-foto mereka terlihat persis seperti yang mereka inginkan. Anda tentu tidak bisa mempercayai semua yang Anda lihat di Instagram, bukan?" tandas Dena Barsoum.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.