5 Kebiasaan yang Membahayakan Otak, Termasuk Kurang Minum

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi minum air mineral. Shutterstock

    Ilustrasi minum air mineral. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Otak merupakan salah satu organ yang kompleks dan memainkan peran kunci di hampir semua fungsi tubuh. Otak itu sensitif dan kondisinya juga dipengaruhi oleh gaya hidup.

    Jadi, kebiasaan Anda makan, minum, dan bagaimana Anda bersosialisasi dapat membahayakan atau meningkatkan kesehatan otak Anda.

    Berikut ini lima kebiasaan yang buruk bagi otak, seperti dilansir Medical Daily.

    1. Menutup kepala saat tidur

    Tidur dengan kepala di bawah selimut berpotensi membahayakan otak karena asupan oksigen berkurang.

    Saat menutup kepala dengan selimut, Anda bernapas di udara yang baru saja dihembuskan.

    Kurangnya oksigen yang mengalir ke otak dapat meningkatkan risiko demensia dan penyakit Alzheimer, menurut Capital FM.

    2. Latihan mental dan fisik yang buruk

    Menjaga pikiran dan tubuh dapat membantu meningkatkan kesehatan otak. Kurang olahraga akan memengaruhi daya ingat dan mungkin membuat Anda lebih mungkin menderita demensia.

    Beberapa kegiatan yang dikenal efektif untuk merangsang otak termasuk membaca dan bersosialisasi.

    3. Kualitas tidur buruk

    Tidak cukup tidur setiap malam untuk waktu yang lama dapat membahayakan otak, dan meningkatkan risiko gangguan neurologis.

    Selama tidur, tubuh bekerja untuk mengeluarkan racun dan produk sampingan lainnya dari otak.

    Kurang tidur kronis dapat menunda proses tersebut dan memungkinkan pembentukan zat berbahaya.

    4. Kurang minum

    Kekurangan air dalam tubuh tidak hanya berdampak pada kinerja fisik tetapi juga otak Anda. Dehidrasi dapat menyebabkan migrain, perubahan suasana hati, lekas marah, cemas, dan kelelahan.

    Otak mengandung air, dan saat tubuh mengalami dehidrasi volume organ akan berkurang dan memengaruhi fungsinya.

    5. Stres

    Stres kronis memicu produksi hormon steroid yang disebut kortisol. Memiliki kelebihan kortisol dalam tubuh telah dikaitkan dengan ketidakseimbangan hormon, kanker, pertambahan berat badan, penyakit jantung dan diabetes.

    Stres juga dapat berpengaruh terhadap kelenjar adrenal. Anda mungkin mengalami kabut otak, kehilangan ingatan dan kecemasan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.