Alasan Bulu Merinding saat Ketakutan atau Kedinginan

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi merinding (pixabay.com)

    Ilustrasi merinding (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Anda pasti pernah merasakan merinding, yaitu saat bulu di kulit tampak berdiri tegak. Biasanya itu terjadi saat Anda merasa dingin, takut, terangsang secara seksual, atau terpesona. Apa penyebabnya?

    Istilah merinding biasa juga disebut dengan goosebumps. Tidak ada yang tahu pasti dari mana asal kata tersebut. Dalam istilah medis, merinding disebut juga dengan piloerection, cutis anserina, atau horripilation.

    Seseorang akan merasa merinding ketika merasa dingin, takut, sedih, senang, terangsang secara seksual, atau mengalami perasaan emosional yang cukup kuat. Bahkan merinding juga bisa terjadi saat kita menjalani aktivitas sehari-hari seperti ketika sedang buang air kecil.

    Ini adalah reaksi spontan tubuh yang berkaitan dengan pertahanan diri. Pada manusia, mungkin hal ini tidak akan terlihat signifikan. Bahkan kita bisa tidak tahu ketika orang di sebelah kita sedang merinding.

    Namun pada binatang terutama mamalia yang berbulu tebal, fase merinding membuat bulu mereka mengembang dan berdiri tegak. Hal ini kerap terjadi ketika mereka harus berhadapan dengan musuh sehingga tampak lebih besar dan menakutkan.

    Lalu, apa hal yang bisa menjadi penyebab merinding? Pertama, merinding adalah cara tubuh menghangatkan diri. Kerap kali orang merasa merinding ketika menapakkan kaki ke luar rumah di tengah musim dingin atau udara bersuhu rendah. Ketika hal ini terjadi, otot yang terhubung dengan folikel rambut akan berkontraksi. Akibatnya, kulit di sekitar folikel menegang dan menarik rambut yang terhubung.

    Pada binatang pun, cara ini dapat menjadi cara untuk menangkap udara sehingga terjadi insulasi (proses menyimpan panas agar tidak keluar tubuh). Ketika tubuh sudah merasa lebih hangat, bulu akan perlahan ‘tertidur’ kembali. Biasanya, rasa merinding hanya berlangsung beberapa detik.

    Kedua, cara tubuh merespons emosi. Ada banyak cara tubuh merespons emosi yang begitu kuat. Respons yang paling umum adalah meningkatnya aktivitas elektrik di otot bawah kulit dan bertambah cepatnya seseorang bernapas. Kedua hal ini dapat memicu terjadinya merinding.

    Tak hanya itu, merinding juga biasanya identik dengan reaksi saat mendapat sentuhan. Entah itu merasa senang atau sedih, atau keduanya terjadi di saat bersamaan.

    Atau lihat saja bagaimana seseorang bisa merasa merinding beberapa kali saat sedang menonton bioskop. Bandingkan dengan ketika dia mendengarkan lagu yang juga emosional. Hal ini berkaitan dengan stimulus visual.

    Merinding karena masalah medis

    Meskipun kedua penjelasan tentang penyebab merinding di atas sifatnya hanya terjadi selama beberapa detik, ada juga merinding yang berkaitan dengan masalah medis.

    Bisa jadi, merinding merupakan gejala penyakit seperti keratosis pilaris, disrefleksia, temporal lobe epilepsy, hingga penyakit akibat virus seperti demam.

    Salah satu contohnya datang dari pria berusia 49 tahun yang memeriksakan diri ke dokter karena ia terus menerus merasa merinding. Dalam sehari, ia bisa merasa merinding sebanyak 8-12 kali.

    Tak hanya itu, pasien tersebut juga merasa lemah, daya ingat menurun, hingga merasa tidak fokus dengan waktu. Peneliti menyebutnya fenomena post-ictal. Dia tidak merasa pusing, namun muncul mati rasa di bagian kepala.

    Ketika ditanya lebih jauh, pria ini berprofesi sebagai pekerja penggali mesin yang sehari-hari mengoperasikan mesin di kedalaman 20 meter bawah tanah. Ketika menanyai rekan-rekan seprofesinya, tidak ada yang mengalami hal serupa.

    Dari hasil scan, diketahui bahwa ada tumor otak yang cukup masif di bagian kanan. Sejak saat itu, ia menjalani pengobatan seperti kemoterapi untuk memperkecil ukuran tumor dan tidak lagi mengalami keluhan tersebut pada tahun 2002.

    Berdasarkan penelitian, merinding rupanya menjadi salah satu gejala yang dialami pasien penderita tumor otak. Kaitannya biasanya dengan area lobus temporalis, kawasan korteks otak besar yang berfungsi untuk memproses indera, bahasa, emosi, dan ingatan.

    Merinding, belum tentu ada masalah medis

    Meskipun ada penelitian yang menyebutkan hubungan antara merinding dengan masalah medis seperti tumor otak, namun bukan berarti itu yang pasti terjadi. Lagi-lagi, merinding hanya merupakan refleks tubuh saat ada stimulus tertentu.

    Namun hal ini tidak terlihat signifikan pada manusia karena jumlah bulu yang tidak terlalu banyak. Berbeda dengan binatang-binatang yang sekujur tubuhnya dipenuhi bulu.

    Dengan demikian, penyebab merinding bisa disimpulkan sebagai respons tubuh ketika otot yang terhubung dengan folikel rambut berkontraksi. Konsekuensinya, rambut yang terhubung akan menegang sehingga tampak seperti berdiri atau merinding.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.