Minggu, 22 September 2019

Anak Bermata Minus karena Sering Main Gawai? Ini Penjelasannya

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gempi (Instagram @gisel_la)

    Gempi (Instagram @gisel_la)

    TEMPO.CO, Jakarta - Tentu tidak lazim melihat anak seusia Gempita Nora Marten yang masih berumur 4 tahun sudah harus memakai kacamata. Ini karena kondisi mata minus dan silinder Gempi yang baru diketahui belum lama ini. Apa penyebabnya?

    Anggapan yang sering muncul ketika terjadi mata minus pada anak adalah karena pola gaya hidup yang salah. Semisal, terlalu lama melihat gadget, kerap membaca apapun sembari tidur, hingga penerangan yang tidak maksimal.

    Ketika anak menginjak usia 3-6 tahun, kemampuan visual dan penglihatannya sudah jauh berkembang ketimbang masa-masa di usia sebelumnya. Usia inilah mereka mulai piawai mengintegrasikan gerakan tubuh dan penglihatan.

    Ada banyak aktivitas-aktivitas yang memerlukan kejelian mereka dalam melihat, mulai dari belajar menulis hingga aktivitas motorik kasar. Dalam kaitannya dengan mata silinder pada anak, hal ini cukup umum terjadi.

    Mata silinder atau minus pada anak terjadi karena perubahan kelengkungan kornea mata. Konsekuensinya, penglihatan anak akan kabur karena cahaya yang masuk ke mata tidak fokus ke retina kemudian mengakibatkan pandangan buram.

    Penyebab mata silinder pada anak tidak selalu karena gaya hidup. Bisa saja anak memang memiliki bentuk lensa mata yang berbeda sejak lahir. Artinya, ada faktor genetik yang berpengaruh di sini.

    Faktor lain yang bisa menyebabkan mata minus pada anak adalah operasi mata hingga cedera pada mata.

    Anak bisa saja mengalami mata silinder sejak lahir. Namun, biasanya hal ini tidak diketahui sampai mereka melakukan tes mata. Para orangtua perlu ingat bahwa tes kesehatan mata ini sangatlah penting agar kondisi mata minus atau mata silinder pada anak segera terdeteksi.

    Beberapa tanda-tanda anak yang mengalami mata silinder adalah kerap mengucek mata meskipun tidak mengantuk, mata berair, sering memiringkan kepala saat melihat sesuatu, menutup sebelah mata untuk bisa melihat dengan lebih fokus. Selain itu, ia sering menghindari aktivitas yang memerlukan fokus penglihatan, mengeluh mata lelah, hingga sakit kepala

    Jika anak menunjukkan tanda-tanda tersebut, ada baiknya segera memeriksakan mata mereka ke dokter mata. Periode tes kesehatan mata bisa dilakukan ketika anak bberusia 6 bulan, 3 tahun, sebelum masuk sekolah dasar, dan secara berkala setiap 2 tahun.

    SEHATQ.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.