Mitos Seputar Kehamilan Bisa Memicu Anak Kurang Gizi

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hamil bermasalah. shutterstock.com

    Ilustrasi hamil bermasalah. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ibu hamil dikelilingi oleh mitos seputar makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Hati-hati, kepercayaan pada mitos bisa mempengaruhi pemenuhan gizi pada ibu hamil dan janin. Anak yang dilahirkan dari ibu yang kekurangan nutrisi berisiko mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan karena kekurangan gizi kronis. 

    Lead Program Manager untuk Stunting Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, Sekretariat Wakil Presiden RI, IingMursalin, mitos larangan mengonsumsi makanan tertentu selama hamil dan menyusui mengancam banyak ibu di daerah. Ia mencontohkan, salah satu mitos yang banyak beredar adalah ibu hamil dilarang makan cumi-cumi.

    “Katanya kalau makan cumi-cumi atau gurita nanti bayinya terlilit saat lahir. Padahal, ibu hamil membutuhkan protein hewani agar tidak anemia,” kata dia saat di depan peserta Health and Nutrition Journalist Academy 2019 di Jakarta, Senin, 9 September 2019.

    Iing juga mengatakan di beberapa daerah juga terdapat mitos suami dari ibu yang hamil tidak boleh pergi memancing karena bisa membuat anak lahir dengan bibir sumbing.

    Mitos lainnya adalah ketiak ibu melahirkan dan menyusui. Banyak ibu di daerah yang membuang kolostrum, yaitu cairan kuning yang keluar sebelum air susu ibu atau ASI. Mereka menganggap kolostrum merupakan ASI basi yang tidak boleh dikonsumsi anak. Padahal, kolostrum merupakan nutrisi yang sangat penting bagi bayi, terutama untuk memperkuat daya tahan tubuhnya terhadap kuman penyebab infeksi.

    Sebaliknya, banyak ibu yang memberikan madu, air putih, dan pisang pada anak yang baru lahir. “Padahal bayi hingga usia 6 bulan sebaiknya diberi ASI eksklusif,” kata Iing yang pernah menjabat direktur di Millenium Challenge Account – Indonesia ini.

    Iing mengatakan pemenuhan gizi ibu hamil dan menyusui menjadi salah satu kunci keberhasilan pencegahan stunting di Indonesia. Menurut data Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018, sebanyak 30,8 persen atau sekitar 9 juta anak Indonesia saat ini mengalami stunting. Jumlah terbesar ada di Sulawesi Barat dan Nusa Tenggara Timur.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.