7 Mitos Seputar Autisme, Kondisi yang Dialami Anak Dian Sastro

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dian Sastrowardoyo. TEMPO/Anindya Legia Putri

    Dian Sastrowardoyo. TEMPO/Anindya Legia Putri

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak pertama Dian Sastro, Shailendra Naryama Sastraguna Sutowo, didiagnosis mengalami autism spectrum disorder atau autisme. Kondisi itu diketahui ketika Shaien, panggilan Shailendera, berusia delapan bulan.

    “Kabar baiknya, dengan intervensi early di umur 8 bulan, saya terapi nonstop sampai 4 tahun, di umur 6 tahun danak saya dianggap tidak memerlukan terapi lagi,” ujar Dian Sastro ketika berbagi kisahnya di acara Special Kids Expo 2019 di Jakarta, Jumat, 23 Agustus 2019.

    Autisme merupakan gangguan perkembangan yang memengaruhi cara bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Gejala autisme dapat terjadi semenjak masa kanak-kanak. Anak dengan autisme pada umumnya memiliki masalah komunikasi, mengutarakan ekspresi, hingga kesulitan memahami perasaan orang lain.

    Pemahaman masyarakat terhadap anak autis kini sudah lebih baik ketimbang 5 atau 10 tahun sebelumnya. Meski demikian, tidak sedikit orang yang percaya akan mitos-mitos dan stereotip yang belum tentu benar mengenai anak autis, tanpa memahami hal yang sebenarnya.

    Berikut beberapa mitos dan stereotip mengenai anak autis yang banyak beredar beserta fakta yang sebenarnya. Berikut tujuh mitos dan stereotip dari anak autis.

    1. Anak autis dapat menjadi anak jenius atau memiliki gangguan intelektual

    Tidak semua anak autis memiliki intelektual yang luar biasa dan tidak semua anak autis memiliki gangguan intelektual yang membuatnya menjadi tidak cerdas. Autisme tidak memengaruhi intelegensi seseorang.

    Faktanya, terdapat berbagai tingkat intelegensi pada anak-anak autis. ada yang memiliki intelegensi di bawah rata-rata, ada yang di atas rata-rata, dan ada yang di rata-rata. Selain itu, tiap anak autis memiliki kemampuan dan kapabilitas yang berbeda-beda.

    2. Anak autis tidak ingin berteman

    Anak-anak autis memang memiliki masalah dalam sosialisasi dan komunikasi. Namun, ini bukan berarti anak-anak autis tidak ingin berteman dengan orang lain. Anak autis mungkin terkadang terkesan tertutup dan tidak ramah, tetapi sebenarnya anak autis hanya kesulitan dalam cara bersosialisasi dan menyampaikan keinginannya kepada orang lain.

    3. Anak autis tidak dapat merasakan emosi dan mengekspresikan emosinya

    Anak autis tetap dapat merasakan emosi serta mampu mengekspresikan emosi tersebut. Hanya saja, anak-anak autis memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan emosi yang mereka rasakan. Anak autis memiliki kesulitan dalam menangkap komunikasi yang tersirat dan tidak langsung, seperti sarkasme atau gerakan tubuh.

    Namun, jika orang-orang disekitarnya menyampaikan emosi yang dirasakan secara langsung dan tidak tersirat, anak-anak autis dapat menangkap emosi tersebut dan mungkin dapat berempati dengan orang sekitarnya.

    4. Vaksin menyebabkan anak autis

    Sampai saat ini, tidak terdapat penelitian yang dapat secara tegas memperlihatkan hubungan antara anak autis dan vaksinasi. Penyebab autisme belum diketahui secara pasti, tetapi banyak faktor yang mungkin dapat menyebabkan autisme, seperti faktor genetik dan lingkungan.

    5. Anak autis tidak dapat belajar hal baru

    Anak-anak autis dapat mempelajari hal-hal yang baru. Melalui terapi-terapi yang diberikan, anak autis dapat dipandu untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan sekitarnya.

    Anak autis mungkin memiliki kecepatan belajar yang lambat, namun bukan berarti mereka tidak dapat mempelajari hal-hal yang baru. Beberapa terapi yang biasanya diberikan adalah terapi komunikasi dan perilaku, terapi keluarga, serta terapi edukasi.

    6. Pola asuh yang buruk menyebabkan anak autis

    Seperti pada poin keempat, penyebab anak autis belum ditemukan secara pasti. Oleh sebab itu, pola asuh yang buruk tidak dapat dikategorikan sebagai penyebab autis. Namun, pola asuh yang buruk tentu saja berpengaruh buruk terhadap perkembangan anak autis. Sebaliknya, pola asuh yang baik penting bagi anak autis untuk membantu mereka dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan sekitarnya.

    7. Anak autis dapat melakukan pekerjaan yang berulang

    Karakteristik dari anak autis yang selalu melakukan gerakan yang berulang membuat orang-orang mengira bahwa mereka lebih cocok dalam pekerjaan dengan tugas yang berulang-ulang. Meskipun beberapa penyandang autis yang sudah dewasa menyukai pekerjaan dengan tugas yang berulang-ulang, namun sebenarnya tidak ada satu pekerjaan ideal yang sesuai untuk semua anak autis. Alasannya adalah karena setiap anak autis memiliki karakter dan kapabilitas yang berbeda-beda.

    SEHATQ.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.