Dermatitis Atopik pada Anak Dipicu Faktor Genetik, Ini Gejalanya

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Eksim kering. mediskus.com

    Eksim kering. mediskus.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyakit dermatitis atopik merupakan penyakit kulit kronis yang menyerang semua usia, dari bayi sampai lansia, baik perempuan atau laki-laki. Berdasarkan lokasi dan gejala dermatitis atopik terbagi dalam tiga fase, yaitu fase bayi, anak, dewasa dan geriatri.

    Menurut data organisasi kesehatan dunia atau WHO pada tahun 2018, prevalensi penderita dermatitis atopi pada anak sebesar 5-30 persen dan pada dewasa 1-10 persen populasi di dunia. Sementara di Indonesia, angka prevalensi dermatitis atopik pada anak mencapai 23,67 persen atau sekitar 2 juta kasus per tahun.

    Dermatitis atopik pada anak 80 persen terjadi pada fase bayi dan anak usia 1 sampai 5 tahun. Ada beragam faktor pemicu dermatitis atopik pada anak salah satunya faktor genetik. “Kedua orang tua yang memiliki dermatitis atopik maka menurun pada anak, kalau satu orang tua atopi, anak memiliki kemungkinan atopi,” ujar dokter spesialis kulit senior Ronny Handoko, dalam temu media di Jakarta, Rabu 14 Agustus 2019.

    Sedangkan faktor pemicu lainnya antara lain debu, serbuk kayu, gypsum, daya tahan tubuh menurun, bulu hewan peliharaan, perubahan cuaca, stres emosional, gigitan serangga, serta zat iritan seperti detergen. Gejala dermatitis atopik pada anak ditandai dengan gatal, kulit kering, dan ruam kemerahan. Pada kasus yang berat ditandai dengan ruam merah agak basah dan krustasi, sedangkan kasus kronis terdapat penebalan kulit dan perubahan warna kulit kegelapan.

    dr. Anthony Handoko, SpKK, FINDV, CEO Klinik Pramudia dan spesialis kulit senior Ronny Handoko, SpKK dalam temu media di Jakarta, Rabu 14 Agustus 2019. TEMPO/Nia Pratiwi

    Dokter spesialis kulit Anthony Handoko mengatakan dermatitis atopik pada bayi terdapat pada wajah, siku, lutut, dan kulit kepala. Sedangkan pada anak biasanya terjadi di lipatan siku, lipat lutut, leher, mata dan seputar bibir. “Yang perlu diperhatikan adalah penderita dermatitis atopik biasanya memiliki gejala penyerta seperti hidung meler atau bersih pada pagi hari atau yang disebut rhinitis allergic , mata mera, dan asma,” ujar CEO Klinik Pramudia ini.

    Anthony menambahkan untuk pengobatan dermatitis atopik pada anak diberikan berdasarkan kondisi yang timbul, bisa melalui terapi topikal, oral, dan penyinaran atau Phototeraphy. Namun untuk perawatan sehari-hari pastikan agar kulit anak selalu dalam kondisi lembap. “Kenali lokasi dan gejala dermatitis atopik anak sedini mungkin dan segera konsultasikan dengan dokter kulit karena semakin cepat ditangani semakin baik hasilnya,” ujarnya.

    Selain itu, dia Anthony mengingatkan pentingnya keterlibatan dan kepedulian keluarga, serta menghindari faktor pemicu atau pencetus dermatitis atopik. Dia juga meluruskan mitos bahwa penderita dermatitis atopik harus mandi dengan air panas. “Penderita dermatitis atopik tidak disarankan mandi air panas, tapi suam kuku, karena atopi punya gangguan genetik di mana kelenja minyak memproduksi lebih sedikit jika mandi air panas akan membuat jadi bertambah kering,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.